Kuta Dulu dan Sekarang: Masihkah Relevan untuk Dikunjungi?
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sen, 7 Jul 2025
- visibility 20
- comment 0 komentar

Kuta. Nama ini kerap membangkitkan dua citra yang kontras. Bagi sebagian orang, ia adalah kenangan manis tentang surga para backpacker dan peselancar di tahun 70-an hingga 90-an; sebuah desa nelayan yang bertransformasi menjadi ikon pariwisata Bali dengan pantai legendaris dan suasana bebas. Namun, bagi sebagian lainnya, Kuta hari ini adalah pusat keramaian yang padat, identik dengan kemacetan dan komersialisasi.
Lantas, di tengah pesatnya perkembangan destinasi baru di Bali yang menawarkan ketenangan, masihkah Kuta relevan untuk dikunjungi? Jawabannya adalah iya, namun dengan ekspektasi yang berbeda.
Kuta di masa lalu adalah tentang petualangan dan kesederhanaan. Kini, ia telah berevolusi menjadi sebuah destinasi yang menawarkan kemudahan dan energi urban. Jantung Kuta memang tidak lagi berdetak dalam ritme yang sama, namun pesonanya belum sepenuhnya padam. Matahari terbenam di Pantai Kuta tetap menjadi salah satu yang terindah di Bali, menawarkan siluet magis yang tak lekang oleh waktu. Ombaknya yang konsisten juga masih menjadi “sekolah” terbaik bagi para peselancar pemula.
Di balik citranya yang ramai, Kuta modern menawarkan fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari pusat perbelanjaan megah seperti Beachwalk Shopping Center, beragam pilihan kuliner yang tak ada habisnya, hingga kehidupan malam yang semarak. Akomodasi pun bervariasi, dari hostel ramah kantong hingga hotel-hotel berbintang dengan akses langsung ke pantai.
Jadi, Kuta mungkin bukan lagi pilihan utama bagi mereka yang mencari ketenangan spiritual atau suasana pedesaan otentik. Namun, bagi wisatawan yang mendambakan liburan dinamis, penuh energi, dengan segala kemudahan di depan mata, Kuta tetaplah sebuah destinasi yang sangat relevan. Kuta tidak hilang, ia hanya bertransformasi, menawarkan wajah baru bagi generasi baru para pelancong.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar