Rabu, 17 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Budaya “Ngeliwet”: Makan Bersama di Atas Daun Pisang

Budaya “Ngeliwet”: Makan Bersama di Atas Daun Pisang

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sab, 13 Sep 2025
  • visibility 152
  • comment 0 komentar

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, ada satu tradisi kuno yang kembali menemukan tempatnya di hati banyak orang: budaya “ngeliwet”. Lebih dari sekadar makan bersama, ngeliwet adalah sebuah ritual komunal yang sarat makna, di mana kebersamaan dan kesederhanaan menjadi bintang utamanya. Tradisi yang berasal dari tanah Sunda ini mengundang kita untuk kembali terhubung dengan alam dan satu sama lain melalui cara yang paling otentik.

Inti dari ngeliwet adalah nasi liwet yang dimasak dengan santan, serai, daun salam, dan cabai, memberikan aroma wangi yang begitu menggugah selera. Setelah matang, nasi ini dituang langsung di atas hamparan daun pisang yang panjang, disebar merata di sepanjang meja atau tikar. Kemudian, aneka lauk pauk tradisional ditata di sekeliling nasi, menciptakan sebuah “prasmanan” alami yang begitu kaya warna dan rasa.

Lauk-pauk yang biasa menemani ngeliwet sangat beragam. Mulai dari ayam goreng atau bakar, aneka ikan asin, tahu dan tempe goreng, hingga sayur lalapan segar, sambal, dan kerupuk. Semua hidangan ini disusun sedemikian rupa, memanjakan mata sekaligus menggugah selera.

Yang paling spesial dari ngeliwet adalah cara makannya. Semua orang akan duduk melingkar di sekitar hamparan daun pisang, makan bersama-sama menggunakan tangan. Tradisi ini menghapus sekat-sekat sosial dan menciptakan suasana yang akrab, hangat, dan penuh canda tawa. Di sini, yang terpenting bukanlah kemewahan, melainkan kebersamaan dan kenikmatan sederhana yang tercipta.

Budaya ngeliwet adalah pengingat akan pentingnya menghargai momen bersama dan bersyukur atas rezeki yang ada. Ia adalah ajakan untuk meninggalkan sejenak gadget, bersantai, dan menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan yang indah. Ngeliwet bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang menciptakan kenangan dan mempererat tali silaturahmi yang berharga.

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merti Dusun: Ritual Bersih Desa sebagai Wujud Syukur

    Merti Dusun: Ritual Bersih Desa sebagai Wujud Syukur

    • calendar_month Kam, 10 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Di berbagai daerah di Jawa, Merti Dusun menjadi sebuah tradisi Jawa yang selalu dinantikan. Upacara adat yang juga dikenal dengan sebutan bersih desa ini merupakan sebuah perayaan komunal sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah, terutama hasil panen yang melimpah dan keselamatan seluruh warga desa. Rangkaian acara Merti Dusun biasanya diawali […]

  • Tips Menggunakan E-Visa Umrah: Praktis dan Cepat

    Tips Menggunakan E-Visa Umrah: Praktis dan Cepat

    • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Sejak diluncurkannya sistem E-Visa Umrah oleh pemerintah Arab Saudi, proses keberangkatan ke Tanah Suci kini jauh lebih efisien. E-Visa memungkinkan jamaah untuk mengajukan izin masuk secara mandiri atau melalui agen tanpa harus mengurus paspor fisik ke kedutaan. Agar perjalanan Anda lancar, berikut adalah tips penting dalam menggunakan E-Visa Umrah.   1. Pastikan Keaslian Situs dan […]

  • Kawah Sikidang: Menyaksikan Langsung Kawah Vulkanik Aktif di Dataran Tinggi Dieng

    Kawah Sikidang: Menyaksikan Langsung Kawah Vulkanik Aktif di Dataran Tinggi Dieng

    • calendar_month Jum, 22 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Kawah Sikidang, yang berlokasi di Dataran Tinggi Dieng, adalah salah satu destinasi wisata geologi yang paling menarik dan unik di Indonesia. Kawah ini terkenal karena aktivitas vulkaniknya yang masih aktif dan letaknya yang berpindah-pindah (melompat) dalam satu area, mirip dengan gerakan kijang yang melompat, sehingga diberi nama “Sikidang”. Kawah ini menawarkan pengalaman edukatif yang mendebarkan […]

  • Mengagumi Candi Gunung Kawi: Keajaiban Pahatan di Dinding Batu Bali

    Mengagumi Candi Gunung Kawi: Keajaiban Pahatan di Dinding Batu Bali

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Tersembunyi di tengah kehijauan lembah Sungai Pakerisan, dekat Tampaksiring, terdapat sebuah situs arkeologi yang menakjubkan: Candi Gunung Kawi. Kompleks candi ini bukan bangunan batu bata yang disusun, melainkan serangkaian monumen megah yang dipahat langsung pada tebing batu terjal. Keunikan dan keindahan arsitekturnya menjadikannya salah satu destinasi sejarah dan budaya yang wajib dikunjungi di Bali. Sejarah […]

  • Mengenal Rukun, Wajib, dan Sunnah Umrah

    Mengenal Rukun, Wajib, dan Sunnah Umrah

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Ibadah umrah terdiri dari beberapa rangkaian amalan yang memiliki tingkatan hukum berbeda, yaitu rukun, wajib, dan sunnah. Memahami ketiganya sangat penting agar ibadah Anda sah dan sempurna. Rukun Umrah Rukun adalah amalan yang wajib dilakukan. Jika salah satu rukun ini tidak terpenuhi, maka umrah tidak sah dan harus diulang. Rukun umrah terdiri dari: * Niat […]

  • Ludruk: Tawa dan Sindiran dalam Teater Komedi Rakyat Jawa Timur

    Ludruk: Tawa dan Sindiran dalam Teater Komedi Rakyat Jawa Timur

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Jawa Timur memiliki kekayaan seni pertunjukan rakyat yang unik dan menghibur, salah satunya adalah Ludruk. Teater tradisional ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa Timur sejak lama, menawarkan hiburan sekaligus menyampaikan pesan-pesan sosial melalui komedi dan satir yang khas. Ludruk dikenal dengan spontanitasnya, interaksi langsung dengan penonton, serta penggunaan bahasa Jawa Timur […]

expand_less