Sabtu, 18 Apr 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Karungut: Sastra Lisan Suku Dayak Ngaju

Karungut: Sastra Lisan Suku Dayak Ngaju

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
  • visibility 97
  • comment 0 komentar

Karungut adalah salah satu bentuk sastra lisan yang sangat berharga dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Lebih dari sekadar lagu, Karungut adalah syair yang diiringi petikan alat musik kecapi dan mengandung narasi mendalam tentang sejarah, adat istiadat, kearifan lokal, hingga kisah-kisah kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak.

Fungsi Karungut sangat beragam. Dalam upacara adat, ia sering digunakan sebagai pengiring ritual seperti pernikahan, upacara kematian (tiwah), atau ritual penyembuhan. Liriknya berisi doa-doa, mantra, dan pesan-pesan moral yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Di sisi lain, Karungut juga berfungsi sebagai media hiburan dan pengikat sosial, di mana masyarakat berkumpul untuk mendengarkan dan mengapresiasi kisah-kisah yang dinyanyikan.

Gaya Karungut sangat khas, dengan melodi yang unik dan lirik yang puitis. Pencipta Karungut, atau yang disebut “seniman Karungut,” memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dan merangkai kata-kata secara spontan. Keahlian ini membuat setiap pertunjukan Karungut menjadi unik dan selalu relevan dengan konteks acara.

Seiring dengan perkembangan zaman, Karungut menghadapi tantangan dalam pelestariannya. Kurangnya minat dari generasi muda dan masuknya budaya modern membuat seni ini mulai jarang terdengar. Namun, berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan komunitas adat, mulai aktif mengadakan festival, workshop, dan dokumentasi untuk menjaga agar Karungut tidak punah.

Karungut adalah cerminan dari kekayaan intelektual Suku Dayak Ngaju. Setiap syairnya adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajarkan kita tentang nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang tersemat dalam setiap melodinya. Melestarikan Karungut berarti menjaga jiwa dan identitas Suku Dayak agar tetap hidup.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertanian Zero Waste: Semua Limbah Menjadi Berkah

    Pertanian Zero Waste: Semua Limbah Menjadi Berkah

    • calendar_month Ming, 24 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Dalam sistem pertanian konvensional, limbah sering dianggap sebagai masalah yang harus dibuang, baik itu sisa tanaman, kotoran ternak, atau sisa panen yang tidak terjual. Namun, konsep pertanian zero waste mengubah paradigma ini sepenuhnya. Dengan pendekatan ini, semua limbah menjadi berkah, diolah kembali menjadi produk bernilai dan sumber daya yang bermanfaat, menciptakan sistem yang efisien, berkelanjutan, […]

  • Peran Cadangan Devisa dalam Menjaga Stabilitas Kurs Mata Uang

    Peran Cadangan Devisa dalam Menjaga Stabilitas Kurs Mata Uang

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Dalam perekonomian modern, kurs mata uang memiliki peran sentral dalam menentukan daya beli suatu negara dan daya saing ekspor-impornya. Fluktuasi kurs yang tidak terkendali dapat menciptakan ketidakpastian dan mengganggu stabilitas ekonomi. Di sinilah cadangan devisa memainkan peran krusial sebagai “benteng” pertahanan sebuah negara. Apa Itu Cadangan Devisa? Cadangan devisa adalah aset-aset dalam mata uang asing […]

  • Tips Agar Ibadah Umrah Lebih Fokus dan Tidak Terganggu

    Tips Agar Ibadah Umrah Lebih Fokus dan Tidak Terganggu

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Ibadah Umrah adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, suasana yang sangat ramai, perbedaan bahasa, hingga godaan teknologi seringkali menjadi penghalang bagi jamaah untuk mencapai fokus dan khusyuk yang maksimal. Berikut adalah tips praktis agar ibadah Umrah Anda lebih tenang dan tidak terganggu. 1. Jauhkan Ponsel Selama Ibadah Inti Ponsel adalah gangguan […]

  • Mappacci: Ritual ‘Malam Pacar’ Suku Bugis yang Sakral

    Mappacci: Ritual ‘Malam Pacar’ Suku Bugis yang Sakral

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Dalam kekayaan adat pernikahan di Indonesia, Suku Bugis dari Sulawesi Selatan memiliki sebuah ritual pra-nikah yang sarat makna, yaitu Mappacci. Sering disamakan dengan ‘malam pacar’ pada umumnya, Mappacci memiliki esensi yang lebih dalam dari sekadar menghias tangan. Ini adalah upacara sakral untuk menyucikan calon pengantin secara lahir dan batin. Secara harfiah, ‘Mappacci’ berasal dari kata […]

  • Robot Polisi Curi Perhatian di HUT Bhayangkara: Wajah Baru Polri di Era Digital

    Robot Polisi Curi Perhatian di HUT Bhayangkara: Wajah Baru Polri di Era Digital

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Perayaan puncak HUT ke-79 Bhayangkara pada 1 Juli 2025 di Monumen Nasional, Jakarta, menyajikan sebuah pemandangan yang tak biasa dan langsung viral. Di antara deretan defile pasukan, kehadiran robot polisi canggih berhasil mencuri perhatian publik dan menjadi simbol kuat modernisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Atraksi ini menampilkan beberapa jenis robot, termasuk robot humanoid yang […]

  • Budaya Minum Kopi di Indonesia: Evolusi dari Warung Kopi ke Kafe Modern

    Budaya Minum Kopi di Indonesia: Evolusi dari Warung Kopi ke Kafe Modern

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Indonesia, sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, memiliki budaya minum kopi yang kaya dan terus berkembang. Dari secangkir kopi hitam pahit di warung tradisional hingga sajian kopi modern di kafe-kafe kekinian, kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian dan gaya hidup masyarakatnya. Awalnya, kopi diperkenalkan oleh Belanda pada abad ke-17. Perkebunan kopi […]

expand_less