Tinutuan: Bubur Manado, Simbol Sarapan Sehat Kaya Nutrisi
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar

Jika Anda mencari hidangan yang memanjakan lidah sekaligus memberikan suntikan energi sehat, **Tinutuan** atau yang lebih dikenal sebagai **Bubur Manado** adalah jawabannya. Berbeda dari bubur ayam pada umumnya yang didominasi oleh protein hewani, Tinutuan adalah perayaan sayur-mayur segar yang menjadikannya salah satu kuliner paling bergizi di Nusantara.
Berasal dari Sulawesi Utara, **Tinutuan** memiliki ciri khas tampilan warna kuning cerah yang menggugah selera. Warna ini berasal dari campuran labu kuning (waluh) dan ubi jalar yang dimasak bersama beras hingga lembut. Teksturnya yang kental dan aromanya yang segar menjadikan hidangan ini favorit sebagai menu sarapan yang mengenyangkan namun tetap terasa ringan di perut.
[Gambar semangkuk Tinutuan yang berwarna kuning cerah dengan taburan jagung dan sayuran hijau]
Kekuatan utama **Tinutuan** terletak pada keragaman sayuran di dalamnya. Biasanya, bubur ini dicampur dengan jagung manis, bayam, kangkung, dan yang paling otentik adalah **daun gedi**. Daun gedi tidak hanya memberikan tekstur kental alami, tetapi juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan pencernaan dan menurunkan kolesterol. Perpaduan serat dari berbagai sayuran ini menjadikan Tinutuan sebagai pilihan tepat bagi mereka yang menjalankan gaya hidup sehat.
Meskipun isinya penuh sayuran, jangan ragukan rasanya. **Tinutuan** biasanya disajikan dengan pelengkap yang kontras dan berani. Kehadiran **sambal roa** yang pedas berasap, ikan asin yang renyah, serta tahu goreng menciptakan harmoni rasa gurih, pedas, dan segar dalam satu suapan. Bagi pencinta rasa segar, tambahan perasan jeruk nipis akan menyempurnakan hidangan ini.
**Tinutuan** bukan sekadar bubur; ia adalah bukti bahwa makanan sehat bisa terasa sangat nikmat. Kuliner khas Manado ini mengajarkan kita bahwa kesederhanaan bahan alam, jika diolah dengan benar, dapat menghasilkan mahakarya rasa yang tak terlupakan.
- Penulis: Muhamad Fatoni

Saat ini belum ada komentar