Minggu, 31 Agu 2025
light_mode
Beranda » Ekonomi » Ekonomi Perilaku: Ketika Psikologi Membongkar Asumsi Rasionalitas dalam Ekonomi

Ekonomi Perilaku: Ketika Psikologi Membongkar Asumsi Rasionalitas dalam Ekonomi

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
  • visibility 18
  • comment 0 komentar

Selama bertahun-tahun, ilmu ekonomi tradisional berdiri di atas asumsi kuat bahwa manusia adalah Homo economicus—makhluk rasional yang selalu membuat keputusan untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya. Namun, benarkah kita selalu logis dalam setiap keputusan finansial, mulai dari membeli kopi hingga berinvestasi? Di sinilah Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics) hadir untuk memberikan jawaban yang lebih realistis.

Ekonomi perilaku adalah cabang ilmu yang menggabungkan psikologi dengan ekonomi untuk memahami mengapa manusia sering kali membuat keputusan yang tampak “irasional”. Alih-alih mengasumsikan rasionalitas, bidang ini membuktikan bahwa keputusan kita sangat dipengaruhi oleh bias kognitif, faktor emosional, dan pengaruh sosial yang sering kali tidak kita sadari.

Konsep kunci di dalamnya termasuk:

* Loss Aversion: Rasa sakit karena kehilangan uang Rp100.000 terasa jauh lebih kuat daripada kebahagiaan saat menemukan jumlah yang sama.

* Framing Effect: Sebuah produk yang dilabeli “85% bebas lemak” akan lebih menarik daripada yang dilabeli “mengandung 15% lemak”, meskipun informasinya identik.

* Herding Mentality: Kecenderungan untuk mengikuti keputusan orang banyak, seperti ikut-ikutan membeli saham yang sedang naik daun tanpa analisis mendalam.

Pemahaman tentang ekonomi perilaku memiliki implikasi yang sangat luas. Pemerintah dapat menggunakannya untuk merancang kebijakan publik yang lebih efektif—seperti mendorong masyarakat untuk menabung melalui “dorongan” (nudge) halus. Di dunia bisnis, perusahaan memanfaatkannya untuk memahami konsumen dan menyusun strategi pemasaran yang lebih persuasif.

Pada akhirnya, ekonomi perilaku tidak menggantikan teori ekonomi klasik, tetapi melengkapinya. Dengan membongkar mitos manusia super-rasional, ilmu ini memberikan pandangan yang lebih utuh dan akurat tentang bagaimana ekonomi bekerja di dunia nyata, membuktikan bahwa untuk memahami pasar, kita harus terlebih dahulu memahami manusia.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Komputer Generasi Ketiga: Era Sirkuit Terpadu dan Komputer Pribadi Pertama

    Mengenal Komputer Generasi Ketiga: Era Sirkuit Terpadu dan Komputer Pribadi Pertama

    • calendar_month Ming, 22 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Revolusi selanjutnya dalam dunia komputasi terjadi dengan munculnya Komputer Generasi Ketiga (sekitar 1960-an – 1970-an). Era ini ditandai dengan inovasi paling penting: penggunaan sirkuit terpadu (Integrated Circuits/IC). Penemuan IC secara radikal mengubah ukuran, kecepatan, dan kemampuan komputer, membuka jalan bagi perangkat yang lebih ringkas dan terjangkau, bahkan bibit-bibit awal komputer pribadi. IC, atau chip, menggabungkan […]

  • Peran Krusial Uranium dalam Mendorong Transisi Energi Global

    Peran Krusial Uranium dalam Mendorong Transisi Energi Global

    • calendar_month Ming, 6 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Di tengah upaya global untuk memerangi perubahan iklim, transisi dari bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih bersih menjadi sebuah keharusan. Dalam lanskap ini, uranium, sebagai bahan bakar utama untuk tenaga nuklir, memegang peran strategis yang tak tergantikan dalam memastikan keberhasilan transisi energi global. Energi nuklir yang dihasilkan dari uranium adalah salah satu sumber […]

  • LMKN dari Sudut Pandang Musisi: Harapan dan Realita

    LMKN dari Sudut Pandang Musisi: Harapan dan Realita

    • calendar_month Ming, 24 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Bagi banyak musisi di Indonesia, Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) adalah entitas yang penuh dengan harapan. Harapan akan adanya keadilan, transparansi, dan imbalan yang layak atas karya-karya yang telah mereka curahkan dengan segenap hati. Namun, seiring berjalannya waktu, harapan ini sering kali berhadapan dengan realita yang kompleks, memunculkan berbagai pertanyaan dan tantangan. Harapan: Royalti yang […]

  • Peusijuek: Tradisi Tepung Tawar untuk Keberkahan di Aceh

    Peusijuek: Tradisi Tepung Tawar untuk Keberkahan di Aceh

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, menyimpan kekayaan tradisi yang kental dengan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Salah satu tradisi yang hingga kini terus lestari adalah Peusijuek. Dikenal juga sebagai prosesi tepung tawar, Peusijuek merupakan upacara adat untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini menjadi bagian […]

  • NAIRU: Tingkat Pengangguran ‘Aman’ yang Tidak Memicu Inflasi

    NAIRU: Tingkat Pengangguran ‘Aman’ yang Tidak Memicu Inflasi

    • calendar_month Kam, 28 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Dalam ekonomi makro, hubungan antara pengangguran dan inflasi adalah topik yang selalu menarik. Salah satu konsep paling penting yang menggambarkan hubungan ini adalah NAIRU atau Non-Accelerating Inflation Rate of Unemployment. Sederhananya, NAIRU adalah tingkat pengangguran “alami” di mana inflasi tidak naik atau turun secara signifikan. Ini bukan berarti pengangguran nol, melainkan tingkat di mana tekanan […]

  • Panduan Wisata Nusa Lembongan: Ketenangan Pulau Santai & Pesona Hutan Mangrove

    Panduan Wisata Nusa Lembongan: Ketenangan Pulau Santai & Pesona Hutan Mangrove

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Lelah dengan hiruk pikuk Bali? Sebuah pelarian singkat berjarak hanya 30 menit dengan perahu cepat akan membawa Anda ke Nusa Lembongan, sebuah pulau santai yang menawarkan ritme kehidupan yang jauh lebih tenang. Sebagai bagian dari panduan wisata Nusa Lembongan, artikel ini akan mengajak Anda menjelajahi pesona utamanya, dari pantai indah hingga ekosistem mangrove yang menyejukkan. […]

expand_less