Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Elastisitas Harga: Mengapa Diskon Besar Tidak Selalu Meningkatkan Pendapatan?

Elastisitas Harga: Mengapa Diskon Besar Tidak Selalu Meningkatkan Pendapatan?

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
  • visibility 125
  • comment 0 komentar

Setiap pemilik usaha pasti pernah tergoda untuk memberikan diskon besar-besaran dengan harapan dapat menarik banyak pembeli dan mendongkrak pendapatan. Namun, sering kali hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Alih-alih untung, pendapatan justru stagnan atau bahkan menurun. Mengapa strategi ‘banting harga’ ini bisa gagal? Jawabannya terletak pada konsep ekonomi bernama Elastisitas Harga.

Secara sederhana, elastisitas harga adalah sebuah ukuran untuk melihat seberapa sensitif jumlah permintaan suatu produk terhadap perubahan harganya. Konsep ini membantu kita memahami perilaku konsumen dan terbagi menjadi dua kategori utama:

* Permintaan Elastis: Terjadi pada barang yang permintaannya sangat responsif terhadap perubahan harga. Biasanya ini adalah barang mewah, barang yang memiliki banyak pengganti (substitusi), atau barang yang tidak terlalu mendesak. Contohnya tiket liburan atau tas branded. Untuk produk seperti ini, sedikit saja penurunan harga (diskon) bisa menyebabkan lonjakan permintaan yang sangat besar.

* Permintaan Inelastis: Terjadi pada barang yang permintaannya tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan harga. Ini adalah barang-barang kebutuhan pokok yang harus dibeli, seperti beras, bensin, atau obat resep. Meskipun harganya naik atau turun drastis, jumlah yang dibeli orang cenderung tidak banyak berubah.

Di sinilah letak kunci jawabannya. Memberikan diskon besar untuk produk dengan permintaan elastis adalah strategi yang jitu. Lonjakan volume penjualan akan lebih dari cukup untuk menutupi harga jual yang lebih rendah, sehingga total pendapatan akan meningkat.

Sebaliknya, memberikan diskon untuk produk dengan permintaan inelastis adalah sebuah kesalahan. Konsumen akan membeli dalam jumlah yang hampir sama, tidak peduli seberapa besar diskonnya. Akibatnya, Anda hanya menjual barang dalam jumlah yang sama dengan harga lebih murah, sehingga total pendapatan justru akan turun.

Dengan memahami elastisitas harga, para pebisnis dapat membuat strategi penetapan harga yang lebih cerdas. Mereka bisa tahu kapan harus memberikan diskon dan kapan menaikkan harga untuk benar-benar memaksimalkan pendapatan, bukan malah menggerusnya.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Tak Bergerak di Akhir Pekan

    Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Tak Bergerak di Akhir Pekan

    • calendar_month Ming, 29 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Memasuki hari Minggu, 29 Juni 2025, harga emas batangan dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau tidak mengalami perubahan. Berdasarkan informasi dari situs resmi Logam Mulia yang diperbarui pada pukul 08:25 WIB, harga emas hari ini tetap sama seperti hari sebelumnya. Harga per gram emas Antam hari ini, Minggu (29/6), stabil di level Rp 1.884.000. […]

  • Bagaimana Kritik yang Membangun Dapat Membantu Guru Berkembang?

    Bagaimana Kritik yang Membangun Dapat Membantu Guru Berkembang?

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Setiap profesional, termasuk guru, membutuhkan kritik yang membangun untuk berkembang. Jauh dari sekadar omelan atau keluhan, kritik konstruktif adalah alat ampuh yang dapat mendorong pertumbuhan profesional dan meningkatkan kualitas pengajaran. Namun, bagaimana sebenarnya kritik semacam ini bekerja dan mengapa guru harus menyambutnya? Meningkatkan Refleksi Diri Kritik yang membangun seringkali berfungsi sebagai cermin. Ketika seorang guru […]

  • Zakat dan Wakaf Produktif: Pilar Pemberdayaan Ekonomi Umat

    Zakat dan Wakaf Produktif: Pilar Pemberdayaan Ekonomi Umat

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Dalam Islam, instrumen keuangan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi umat. Dua pilar penting dalam sistem ekonomi Islam yang memiliki potensi besar untuk tujuan ini adalah zakat dan wakaf produktif. Zakat, sebagai rukun Islam ketiga, merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah mencapai nisab (batas minimum kepemilikan harta). […]

  • Sejarah Musik Keroncong: Dari Portugis hingga Jadi Musik Khas Indonesia

    Sejarah Musik Keroncong: Dari Portugis hingga Jadi Musik Khas Indonesia

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Mendengar alunan syahdu ukulele, gesekan biola, petikan gitar, dan dentingan cello yang khas, kita langsung teringat pada musik keroncong. Namun, tahukah Anda bahwa musik yang kini menjadi salah satu identitas musik Indonesia ini memiliki akar yang jauh dari tanah air? Jejak sejarahnya bermula dari kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-16. Musik keroncong dipercaya […]

  • Prediksi Inovasi 10 Tahun ke Depan: Apa yang Akan Berubah?

    Prediksi Inovasi 10 Tahun ke Depan: Apa yang Akan Berubah?

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Dunia berada di ambang revolusi teknologi yang akan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi secara fundamental. Dalam satu dekade mendatang, laju inovasi tidak akan melambat, justru akan semakin cepat. Prediksi inovasi 10 tahun ke depan menunjukkan pergeseran besar yang didorong oleh kemajuan dalam berbagai bidang kunci. Dominasi Kecerdasan Buatan (AI) dan Otomatisasi Kecerdasan Buatan […]

  • Sejarah Roti Buaya dalam Pernikahan Adat Betawi

    Sejarah Roti Buaya dalam Pernikahan Adat Betawi

    • calendar_month Sab, 6 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Dalam setiap perayaan pernikahan adat Betawi, ada satu hidangan yang tak pernah absen dan selalu menarik perhatian: Roti Buaya. Lebih dari sekadar penganan, roti berbentuk reptil ini adalah simbol sakral yang kaya akan makna filosofis dan historis, menjadi representasi dari harapan dan doa dalam sebuah ikatan suci. Kehadirannya bukan hanya pelengkap, melainkan bagian integral dari […]

expand_less