John Maynard Keynes: Bapak Makroekonomi Modern dan Peran Pemerintah dalam Resesi π
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Jum, 7 Nov 2025
- visibility 52
- comment 0 komentar

John Maynard Keynes (1883β1946) adalah seorang ekonom Inggris yang gagasannya merevolusi pemikiran ekonomi abad ke-20. Ia secara luas dianggap sebagai Bapak Makroekonomi Modern, sebuah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari perekonomian secara keseluruhanβtermasuk inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi. Karyanya yang paling berpengaruh, The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), lahir dari pengalaman pahit Depresi Besar tahun 1930-an.
Mengapa Pasar Gagal dalam Resesi?
Sebelum Keynes, pandangan ekonomi dominan (ekonomi klasik) percaya bahwa pasar akan selalu kembali ke keseimbangan penuh pekerjaan secara otomatis. Namun, Depresi Besar menunjukkan bahwa pasar bisa terjebak dalam periode pengangguran massal dan produksi yang lesu untuk waktu yang lama. Keynes berpendapat bahwa permintaan agregat (total permintaan barang dan jasa dalam perekonomian) adalah pendorong utama output dan lapangan kerja.
Dalam resesi, optimisme bisnis dan konsumen merosot, menyebabkan penurunan investasi dan belanja. Ini menciptakan lingkaran setan di mana permintaan yang rendah menyebabkan produksi berkurang, yang berarti lebih banyak pengangguran, yang pada gilirannya semakin menekan permintaan. Keynes menyoroti bahwa dalam kondisi tertentu, pasar tidak dapat mengoreksi dirinya sendiri secara otomatis dan dapat terjebak dalam keseimbangan di bawah potensi penuh (underemployment equilibrium).
Peran Pemerintah sebagai Penjaga Stabilitas
Inilah mengapa Keynes mengadvokasi peran aktif pemerintah untuk menstabilkan ekonomi, terutama saat resesi. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan belanja defisit (deficit spending)βyaitu, membelanjakan lebih banyak dari yang diterima dalam pajakβuntuk meningkatkan permintaan agregat. Belanja ini bisa berupa proyek infrastruktur, tunjangan pengangguran, atau pemotongan pajak.
Idenya adalah bahwa belanja pemerintah akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan pada gilirannya merangsang belanja konsumen dan investasi swasta (multiplier effect). Ketika ekonomi pulih, pemerintah bisa mengurangi belanjanya dan menyeimbangkan anggaran.
Meskipun teori Keynesianisme menghadapi kritik, terutama dari ekonom aliran monetaris dan klasik baru, warisannya tak terbantahkan. Gagasan tentang intervensi pemerintah untuk meredam siklus bisnis telah menjadi bagian integral dari manajemen ekonomi di banyak negara maju, membentuk dasar respons terhadap krisis ekonomi global hingga saat ini.
- Penulis: Muhamad Fatoni

Saat ini belum ada komentar