Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Mengapa Kerugian Terasa Lebih Menyakitkan Dibandingkan Keuntungan? (Prospect Theory)

Mengapa Kerugian Terasa Lebih Menyakitkan Dibandingkan Keuntungan? (Prospect Theory)

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
  • visibility 92
  • comment 0 komentar

Pernahkah Anda merasa lebih kecewa saat kehilangan uang Rp100.000 dibandingkan rasa senang saat menemukan nominal yang sama? Jika ya, Anda tidak sendiri. Fenomena psikologis ini adalah inti dari Prospect Theory (Teori Prospek), sebuah konsep pemenang Nobel yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky.

Teori ini secara fundamental menantang asumsi ekonomi klasik bahwa manusia selalu membuat keputusan rasional. Sebaliknya, Prospect Theory menunjukkan bahwa keputusan kita, terutama yang melibatkan risiko, sangat dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap keuntungan (gain) dan kerugian (loss).

Konsep utamanya adalah aversi kerugian (loss aversion). Penelitian menunjukkan bahwa secara psikologis, dampak dari kerugian terasa sekitar dua kali lebih kuat dibandingkan dampak dari keuntungan dengan nilai yang sama. Inilah sebabnya rasa sakit karena kehilangan Rp100.000 jauh lebih membekas daripada kegembiraan sesaat karena mendapatkannya. Otak kita terprogram untuk memprioritaskan upaya menghindari kerugian daripada upaya mengejar keuntungan.

Selain itu, teori ini memperkenalkan gagasan titik referensi (reference point). Kita tidak mengevaluasi hasil secara absolut, melainkan relatif terhadap kondisi awal kita. Bagi seseorang yang memiliki uang pas-pasan, kehilangan Rp100.000 bisa terasa seperti bencana, sementara bagi seorang jutawan, dampaknya mungkin tidak terasa.

Implikasinya dalam kehidupan sehari-hari sangat besar, terutama dalam keputusan finansial. Aversi kerugian adalah alasan mengapa banyak investor terlalu lama memegang saham yang merugi, karena menjualnya berarti “merealisasikan” rasa sakit dari kerugian tersebut. Mereka lebih memilih berharap harga akan pulih, meskipun itu keputusan yang tidak rasional.

Dengan memahami Prospect Theory, kita bisa lebih waspada terhadap jebakan emosional ini. Mengenali bahwa rasa takut kehilangan sering kali lebih dominan adalah langkah pertama untuk membuat keputusan finansial yang lebih seimbang dan objektif.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Robot Bedah Presisi Tinggi: Era Baru Operasi dengan Risiko Minimal dan Pemulihan Cepat

    Robot Bedah Presisi Tinggi: Era Baru Operasi dengan Risiko Minimal dan Pemulihan Cepat

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Kemajuan teknologi terus merevolusi dunia medis, dan salah satu inovasi paling signifikan adalah penggunaan robot bedah presisi tinggi. Sistem robotik canggih ini memungkinkan ahli bedah untuk melakukan prosedur yang kompleks dengan tingkat akurasi, fleksibilitas, dan kontrol yang belum pernah tercapai sebelumnya. Dampaknya sangat besar, terutama dalam hal mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat waktu pemulihan pasien. […]

  • Wayang Kulit: Mahakarya Dunia yang Bercerita tentang Kehidupan

    Wayang Kulit: Mahakarya Dunia yang Bercerita tentang Kehidupan

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Diakui sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO sejak tahun 2003, Wayang Kulit bukan sekadar seni pertunjukan tradisional biasa. Ini adalah sebuah mahakarya budaya Nusantara, khususnya dari Jawa dan Bali, yang memadukan seni tutur, seni rupa, dan musik dalam sebuah harmoni yang magis dan memukau. Di balik layar putih (kelir), […]

  • Membongkar Rahasia Cicilan 0%: Mengapa Tidak Selalu Gratis?

    Membongkar Rahasia Cicilan 0%: Mengapa Tidak Selalu Gratis?

    • calendar_month Sab, 9 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Tawaran cicilan 0% seringkali terdengar menggiurkan. Dengan janji bebas bunga, kita bisa mendapatkan barang impian tanpa harus membayar biaya tambahan. Namun, dari sudut pandang ekonomi, apakah tawaran ini benar-benar semanis yang terlihat? Kenyataannya, di balik janji manis tersebut, seringkali ada biaya tersembunyi yang tidak secara langsung diinformasikan oleh bank atau penyedia layanan. Memahami biaya-biaya ini […]

  • Sejarah Teh di Indonesia: Dari Tanaman Kolonial hingga Budaya “Ngeteh” 🍵

    Sejarah Teh di Indonesia: Dari Tanaman Kolonial hingga Budaya “Ngeteh” 🍵

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Teh, minuman yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia, memiliki sejarah panjang yang dimulai pada masa kolonial. Awalnya, teh bukanlah tanaman asli nusantara. Bibit teh pertama yang dibawa ke Indonesia datang dari Jepang dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1826 oleh Dr. A.E.F. van den Bosch. Namun, percobaan ini kurang berhasil. […]

  • Imunisasi: Perisai Diri dari Penyakit Berbahaya

    Imunisasi: Perisai Diri dari Penyakit Berbahaya

    • calendar_month Jum, 20 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Imunisasi adalah salah satu terobosan terbesar dalam dunia kesehatan modern yang telah menyelamatkan jutaan nyawa. Lebih dari sekadar suntikan, imunisasi adalah perisai ampuh yang melindungi kita, keluarga, dan komunitas dari berbagai penyakit menular yang berpotensi mematikan. Mengapa Imunisasi Begitu Penting? Penyakit seperti campak, polio, difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) dulunya merupakan ancaman serius yang […]

  • Toleransi dalam Keberagaman: Membangun Harmoni di Tengah Perbedaan

    Toleransi dalam Keberagaman: Membangun Harmoni di Tengah Perbedaan

    • calendar_month Rab, 25 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Indonesia, dengan kekayaan budaya, suku, agama, dan bahasa yang melimpah, adalah contoh nyata dari keberagaman. Namun, keberagaman ini baru bisa menjadi kekuatan yang konstruktif jika diiringi dengan toleransi. Toleransi, dalam konteks ini, bukan sekadar menerima perbedaan, melainkan juga menghargai, menghormati, dan hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan tersebut. Membangun harmoni dalam keberagaman memerlukan pemahaman […]

expand_less