Mengapa Negara Kaya SDA Justru Miskin? Membedah Kutukan Sumber Daya Alam
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Kam, 10 Jul 2025
- visibility 20
- comment 0 komentar

Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, mulai dari minyak, gas, hingga mineral dan hasil hutan. Secara logika, kekayaan ini seharusnya menjadi modal utama untuk kemakmuran. Namun, mengapa banyak negara dengan kondisi serupa, termasuk sebagian potret Indonesia, justru terjebak dalam ketertinggalan ekonomi?
Fenomena paradoks ini dikenal luas sebagai “Kutukan Sumber Daya Alam” atau resource curse. Ini bukanlah takdir, melainkan hasil dari serangkaian tantangan ekonomi dan politik yang kompleks.
Lalu, apa saja penyebab utamanya?
* Ketergantungan Berlebih (Over-reliance): Negara menjadi terlalu fokus pada ekspor satu atau dua komoditas utama. Ketika harga komoditas tersebut anjlok di pasar global, seluruh perekonomian negara akan terguncang hebat karena tidak memiliki sektor lain yang cukup kuat untuk menopangnya.
* “Penyakit Belanda” (Dutch Disease): Pendapatan ekspor sumber daya alam yang masif menyebabkan mata uang lokal menguat secara drastis. Akibatnya, produk dari sektor lain seperti manufaktur dan pertanian menjadi terlalu mahal di pasar internasional dan kalah saing. Hal ini memicu deindustrialisasi, di mana sektor industri justru meredup.
* Tata Kelola Buruk dan Korupsi: Aliran dana yang sangat besar dari sumber daya alam sering kali menggoda praktik korupsi. Pendapatan yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur justru bocor, memperkaya segelintir elite dan menghambat pembangunan jangka panjang.
* Memicu Konflik: Kekayaan sumber daya yang terkonsentrasi di wilayah tertentu dapat memicu ketegangan sosial dan konflik perebutan kontrol atas “harta karun” tersebut, sehingga stabilitas negara terganggu.
Pada akhirnya, kekayaan sumber daya alam bukanlah kutukan, melainkan sebuah ujian tata kelola. Kunci untuk mematahkannya terletak pada diversifikasi ekonomi, pemberantasan korupsi, dan yang terpenting, menginvestasikan kembali keuntungan dari sumber daya alam ke dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar