Deteksi Anomali dan Pola Serangan Tersembunyi
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Jum, 11 Jul 2025
- visibility 17
- comment 0 komentar

Di era digital saat ini, ancaman siber menjadi semakin canggih dan sulit dideteksi. Metode keamanan tradisional yang mengandalkan signature atau aturan yang telah ditentukan seringkali tidak cukup untuk menghadapi serangan baru. Di sinilah AI untuk deteksi anomali hadir sebagai solusi proaktif, mampu mengidentifikasi kejanggalan dan menemukan pola serangan tersembunyi sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih besar.
Cara Kerja AI dalam Mendeteksi Ancaman
Kekuatan utama AI dalam keamanan siber terletak pada kemampuannya untuk belajar secara mandiri dari data. Menggunakan algoritma machine learning, sistem AI terlebih dahulu mempelajari seperti apa pola perilaku “normal” di dalam sebuah jaringan atau sistem. AI menganalisis jutaan titik data—seperti volume lalu lintas jaringan, jam akses pengguna, dan jenis aplikasi yang dijalankan—untuk membangun sebuah garis dasar (baseline) yang komprehensif.
Setelah baseline ini terbentuk, AI akan terus memantau seluruh aktivitas secara real-time. Setiap perilaku yang menyimpang secara signifikan dari pola normal akan langsung ditandai sebagai sebuah anomali atau potensi ancaman. Contohnya meliputi:
* Upaya login seorang karyawan dari lokasi geografis yang tidak biasa.
* Transfer data dalam jumlah besar ke server eksternal pada jam di luar jam kerja.
* Sebuah proses sistem yang tiba-tiba mengakses file-file sensitif yang tidak seharusnya.
Lebih dari itu, AI unggul dalam mengenali korelasi yang rumit dan halus di antara berbagai peristiwa yang mungkin terlihat tidak berhubungan bagi analis manusia. Kemampuan inilah yang memungkinkannya menemukan pola serangan tersembunyi, seperti gerakan lateral peretas di dalam jaringan yang bergerak lambat untuk menghindari deteksi.
Dengan memanfaatkan AI untuk deteksi anomali, organisasi dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi deteksi, mengurangi jumlah alarm palsu (false positives), dan beralih dari pendekatan keamanan yang reaktif menjadi proaktif. AI bukan pengganti ahli keamanan, melainkan partner cerdas yang memperkuat pertahanan siber di tengah lanskap ancaman yang terus berevolusi.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar