Ekonomi Kriminalitas: Apakah Kemiskinan Mendorong Tindak Kejahatan?
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sel, 15 Jul 2025
- visibility 19
- comment 0 komentar

Hubungan antara kemiskinan dan tingkat kejahatan sering dianggap sederhana: orang miskin terpaksa berbuat jahat untuk bertahan hidup. Namun, bidang Ekonomi Kriminalitas menawarkan pandangan yang lebih terstruktur, melihat pelaku kejahatan sebagai individu rasional yang menimbang untung dan rugi.
Dipopulerkan oleh pemenang Nobel Gary Becker, pendekatan ini berpendapat bahwa seseorang akan melakukan tindak kejahatan jika ekspektasi keuntungan dari kejahatan tersebut (misalnya, nilai barang curian) lebih besar daripada ekspektasi biayanya (risiko tertangkap dikalikan dengan beratnya hukuman). Di sinilah peran kemiskinan menjadi krusial dalam mengubah kalkulasi tersebut.
Bagi seseorang dengan pekerjaan stabil dan pendapatan yang layak, “biaya peluang” (opportunity cost) dari melakukan kejahatan sangatlah tinggi. Mereka mempertaruhkan gaji, reputasi, dan masa depan mereka. Sebaliknya, bagi individu yang hidup dalam kemiskinan, tanpa pekerjaan atau prospek yang jelas, biaya peluang untuk berbuat kriminal sangatlah rendah. Mereka memiliki sedikit hal untuk dipertaruhkan, sehingga potensi keuntungan dari kejahatan menjadi relatif lebih menarik.
Dengan kata lain, kemiskinan tidak secara langsung memaksa seseorang menjadi penjahat. Sebaliknya, kemiskinan menciptakan kondisi di mana insentif untuk melakukan tindakan ilegal menjadi lebih tinggi karena rendahnya “biaya” jika mereka meninggalkan jalur yang sah.
Analisis ini mengarah pada dua sisi solusi yang saling melengkapi. Pertama, meningkatkan “biaya” kejahatan melalui penegakan hukum yang efektif dan kepastian hukuman. Kedua, dan yang lebih fundamental, adalah meningkatkan “keuntungan” dari kehidupan yang jujur. Ini dapat dicapai melalui kebijakan ekonomi yang fokus pada:
* Penciptaan lapangan kerja yang layak.
* Peningkatan akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan.
* Jaring pengaman sosial yang efektif.
Jadi, apakah kemiskinan mendorong kejahatan? Jawabannya lebih kompleks dari sekadar ‘ya’. Kemiskinan menciptakan lahan subur bagi kriminalitas dengan mengubah kalkulasi untung-rugi. Oleh karena itu, kebijakan anti-kejahatan yang paling efektif harus berjalan seiring dengan kebijakan ekonomi yang pro-kesejahteraan dan inklusif.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar