Senin, 1 Sep 2025
light_mode
Beranda » Ekonomi » Ekonomi Kriminalitas: Apakah Kemiskinan Mendorong Tindak Kejahatan?

Ekonomi Kriminalitas: Apakah Kemiskinan Mendorong Tindak Kejahatan?

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
  • visibility 19
  • comment 0 komentar

Hubungan antara kemiskinan dan tingkat kejahatan sering dianggap sederhana: orang miskin terpaksa berbuat jahat untuk bertahan hidup. Namun, bidang Ekonomi Kriminalitas menawarkan pandangan yang lebih terstruktur, melihat pelaku kejahatan sebagai individu rasional yang menimbang untung dan rugi.

Dipopulerkan oleh pemenang Nobel Gary Becker, pendekatan ini berpendapat bahwa seseorang akan melakukan tindak kejahatan jika ekspektasi keuntungan dari kejahatan tersebut (misalnya, nilai barang curian) lebih besar daripada ekspektasi biayanya (risiko tertangkap dikalikan dengan beratnya hukuman). Di sinilah peran kemiskinan menjadi krusial dalam mengubah kalkulasi tersebut.

Bagi seseorang dengan pekerjaan stabil dan pendapatan yang layak, “biaya peluang” (opportunity cost) dari melakukan kejahatan sangatlah tinggi. Mereka mempertaruhkan gaji, reputasi, dan masa depan mereka. Sebaliknya, bagi individu yang hidup dalam kemiskinan, tanpa pekerjaan atau prospek yang jelas, biaya peluang untuk berbuat kriminal sangatlah rendah. Mereka memiliki sedikit hal untuk dipertaruhkan, sehingga potensi keuntungan dari kejahatan menjadi relatif lebih menarik.

Dengan kata lain, kemiskinan tidak secara langsung memaksa seseorang menjadi penjahat. Sebaliknya, kemiskinan menciptakan kondisi di mana insentif untuk melakukan tindakan ilegal menjadi lebih tinggi karena rendahnya “biaya” jika mereka meninggalkan jalur yang sah.

Analisis ini mengarah pada dua sisi solusi yang saling melengkapi. Pertama, meningkatkan “biaya” kejahatan melalui penegakan hukum yang efektif dan kepastian hukuman. Kedua, dan yang lebih fundamental, adalah meningkatkan “keuntungan” dari kehidupan yang jujur. Ini dapat dicapai melalui kebijakan ekonomi yang fokus pada:

* Penciptaan lapangan kerja yang layak.

* Peningkatan akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan.

* Jaring pengaman sosial yang efektif.

Jadi, apakah kemiskinan mendorong kejahatan? Jawabannya lebih kompleks dari sekadar ‘ya’. Kemiskinan menciptakan lahan subur bagi kriminalitas dengan mengubah kalkulasi untung-rugi. Oleh karena itu, kebijakan anti-kejahatan yang paling efektif harus berjalan seiring dengan kebijakan ekonomi yang pro-kesejahteraan dan inklusif.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tabuik: Drama Kolosal Peringatan Asyura di Pariaman, Sumatera Barat

    Tabuik: Drama Kolosal Peringatan Asyura di Pariaman, Sumatera Barat

    • calendar_month Kam, 3 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Pariaman, sebuah kota pesisir di Sumatera Barat, memiliki tradisi unik dan megah dalam memperingati Hari Asyura, yaitu Tabuik. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Tabuik menjelma menjadi sebuah drama kolosal yang melibatkan ribuan masyarakat dan menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa duka cita atas gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, […]

  • Pantun: Puisi Lama yang Tak Lekang oleh Zaman

    Pantun: Puisi Lama yang Tak Lekang oleh Zaman

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Jalan-jalan ke pasar baru, jangan lupa membeli kain.” Kalimat pembuka yang akrab di telinga ini adalah ciri khas dari Pantun, salah satu bentuk puisi lama paling populer di Nusantara. Sebagai warisan sastra lisan Melayu, pantun telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia dan sekitarnya, terbukti tak lekang oleh perkembangan zaman. Keunikan pantun terletak pada strukturnya […]

  • LMKN: Mendorong Profesionalisme dan Standar Industri Musik

    LMKN: Mendorong Profesionalisme dan Standar Industri Musik

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Industri musik yang sehat tidak hanya tentang menghasilkan karya-karya populer, tetapi juga tentang memiliki standar profesionalisme yang tinggi dan ekosistem yang teratur. Di Indonesia, Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) memainkan peran fundamental dalam mendorong profesionalisme dan standar industri musik, memastikan semua pihak beroperasi secara etis dan legal. Salah satu cara LMKN mendorong profesionalisme adalah dengan […]

  • Sistem Matrilineal Minangkabau: Saat Garis Keturunan Ibu Menjadi yang Utama

    Sistem Matrilineal Minangkabau: Saat Garis Keturunan Ibu Menjadi yang Utama

    • calendar_month Sen, 30 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Di tengah keragaman budaya Indonesia, suku Minangkabau di Sumatera Barat menonjol dengan sistem sosialnya yang unik: sistem matrilineal. Berbeda dari sistem patrilineal yang umum di banyak tempat, sistem ini menempatkan garis keturunan ibu sebagai poros utama dalam kehidupan masyarakat, warisan, dan adat. Dalam adat Minang, garis keturunan dan suku diwariskan dari pihak ibu. Seorang anak […]

  • DNA Barcoding: Identifikasi Cepat Hama dan Penyakit untuk Pertanian Lebih Sehat

    DNA Barcoding: Identifikasi Cepat Hama dan Penyakit untuk Pertanian Lebih Sehat

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Deteksi dini dan akurat hama serta penyakit merupakan kunci penting dalam menjaga kesehatan tanaman dan mencegah kerugian hasil panen di Indonesia. Metode identifikasi tradisional seringkali memakan waktu dan memerlukan keahlian khusus dalam morfologi. DNA barcoding hadir sebagai solusi revolusioner, menawarkan identifikasi cepat hama dan penyakit berdasarkan sidik jari genetik mereka. Teknik ini memungkinkan respons yang […]

  • Membangun Kepercayaan: Strategi LMKN Menghadapi Kritikan Publik

    Membangun Kepercayaan: Strategi LMKN Menghadapi Kritikan Publik

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 14
    • 0Komentar

    Tidak ada lembaga publik yang kebal dari kritik, termasuk Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Berbagai kritik, terutama terkait transparansi dan distribusi royalti, seringkali menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, alih-alih menghindari, LMKN justru melihat kritik sebagai masukan berharga untuk membangun kepercayaan publik. LMKN secara proaktif merumuskan strategi yang terukur dan terarah untuk menjawab setiap keraguan. […]

expand_less