Perkembangan Arsitektur Masjid di Nusantara: Perpaduan Unik Budaya dan Agama
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sen, 18 Agu 2025
- visibility 16
- comment 0 komentar

Arsitektur masjid di Nusantara memiliki sejarah yang panjang dan kaya, mencerminkan perpaduan unik antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Berbeda dengan arsitektur masjid di Timur Tengah yang kental dengan kubah dan menara, masjid-masjid awal di Indonesia justru mengadaptasi bentuk bangunan tradisional, menciptakan gaya yang khas dan otentik.
Pada masa awal penyebaran Islam, para penyebar agama (Wali Songo) tidak merobohkan bangunan-bangunan yang sudah ada, melainkan menyesuaikannya dengan fungsi masjid. Contoh paling nyata adalah Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus di Jawa. Arsitektur masjid-masjid ini menggunakan atap tumpang bersusun tiga atau lebih, mirip dengan bentuk pura Bali atau bangunan-bangunan suci Hindu-Buddha. Atap tumpang ini tidak hanya estetis, tetapi juga memiliki fungsi filosofis, melambangkan tingkatan spiritual.
Selain itu, menara masjid di Indonesia juga unik. Alih-alih meniru menara tinggi di Timur Tengah, menara Masjid Menara Kudus, misalnya, justru berbentuk seperti bangunan candi Hindu. Hal ini menunjukkan kebijaksanaan para ulama dalam melakukan pendekatan kultural, di mana mereka tidak menolak budaya lokal, tetapi justru mengasimilasi dan memadukannya dengan ajaran Islam.
Seiring berjalannya waktu, arsitektur masjid di Nusantara mulai mengalami perubahan. Pada abad ke-19, pengaruh arsitektur kolonial Belanda dan gaya arsitektur Timur Tengah mulai masuk. Kubah dan menara menjulang mulai muncul di banyak masjid. Puncaknya, pada abad ke-20 dan 21, arsitektur masjid semakin beragam, memadukan berbagai gaya dari seluruh dunia, seperti arsitektur modern minimalis atau arsitektur neo-gotik.
Meskipun demikian, masjid-masjid klasik dengan atap tumpang dan ornamen lokal tetap menjadi bukti kekayaan sejarah dan warisan budaya yang tak ternilai. Mereka adalah simbol nyata dari cara Islam berakulturasi dengan damai di Indonesia, menciptakan identitas arsitektur yang unik di dunia.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar