Sastra dan Budaya dalam Lirik Lagu Iwan Fals
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sen, 18 Agu 2025
- visibility 17
- comment 0 komentar

Iwan Fals bukan sekadar musisi, ia adalah seorang penyair yang lirik-liriknya merekam dengan tajam kondisi sosial dan budaya di Indonesia. Sejak era 1980-an, karya-karyanya menjadi suara bagi rakyat kecil, menyampaikan kritik, harapan, dan realitas yang seringkali terabaikan. Kekuatan liriknya terletak pada kemampuannya memadukan sastra dengan bahasa sehari-hari, menjadikannya mudah dipahami namun tetap sarat makna.
Salah satu ciri khas lirik Iwan Fals adalah nuansa balada yang kuat, yang mengisahkan cerita-cerita sederhana dengan alur yang puitis. Lagu-lagu seperti “Bento” atau “Bongkar” misalnya, tidak hanya sekadar kritik terhadap ketidakadilan, tetapi juga sebuah narasi yang lengkap. Ia menggunakan metafora dan perumpamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti “tangan-tangan perkasa” yang mencengkeram nasib, atau “jalanan” sebagai simbol perjuangan hidup.
Di samping kritik sosial, Iwan Fals juga sering menyisipkan tema-tema budaya dan cinta tanah air. Lagu-lagu seperti “Orang Pinggiran” atau “Negeri” merefleksikan identitas bangsa yang beragam, menyoroti keindahan alam dan kearifan lokal. Ia mengajak pendengar untuk merenungkan kembali arti menjadi seorang Indonesia, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara emosional dan spiritual.
Pengaruh lirik Iwan Fals terhadap sastra dan musik populer di Indonesia sangat besar. Ia membuktikan bahwa lagu dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Karyanya telah menginspirasi banyak musisi dan penulis muda, membuka ruang bagi lirik-lirik yang lebih berani dan jujur.
Hingga kini, lirik-liriknya tetap relevan dan tak lekang oleh waktu. Lagu-lagu Iwan Fals adalah bukti nyata bahwa musik dan sastra dapat bersatu untuk menjadi cermin sebuah bangsa, merekam sejarah, dan menggerakkan hati nurani.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar