Jumat, 19 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Bika Ambon: Kue Berserat yang Bukan Berasal dari Ambon

Bika Ambon: Kue Berserat yang Bukan Berasal dari Ambon

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sab, 6 Sep 2025
  • visibility 84
  • comment 0 komentar

Mendengar namanya, orang mungkin langsung mengira Bika Ambon berasal dari kota Ambon. Namun, siapa sangka, kue dengan tekstur unik dan rasa manis legit ini justru merupakan ikon kuliner khas Medan, Sumatera Utara. Teka-teki asal-usul namanya memang menjadi daya tarik tersendiri, menambah misteri pada kelezatan kue berserat ini yang telah memikat banyak lidah.

Bika Ambon dikenal dengan ciri khasnya: serat-serat halus yang terbentuk di dalamnya, menyerupai sarang lebah, dan tekstur yang kenyal namun lembut. Kue ini terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung tapioka, santan, telur, gula, dan ragi. Proses pembuatannya pun cukup panjang dan memerlukan kesabaran, terutama dalam tahap fermentasi adonan yang berperan penting dalam menciptakan serat-serat sempurna.

Ada beberapa teori mengenai asal nama “Bika Ambon”. Salah satu yang paling populer menyebutkan bahwa nama “Ambon” diambil dari Jalan Ambon di Medan, tempat pertama kali kue ini dijual dan menjadi populer. Teori lain mengaitkan nama tersebut dengan rempah-rempah yang digunakan, seperti vanila, yang dulu banyak diperdagangkan melalui pelabuhan Ambon. Apapun asal-usul namanya, yang jelas Bika Ambon telah menjadi identitas kuliner Medan yang tak terbantahkan.

Kelezatan Bika Ambon tak hanya terletak pada teksturnya yang unik, tetapi juga pada rasa manis gurihnya yang pas, seringkali diperkaya dengan aroma pandan, durian, atau moka. Kue ini menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Medan, sekaligus hidangan istimewa dalam berbagai acara keluarga.

Bika Ambon adalah bukti bagaimana sebuah hidangan dapat memiliki cerita yang menarik di balik namanya, sambil tetap menjadi simbol kebanggaan daerah. Ia adalah mahakarya kuliner yang melampaui batas geografis namanya, menyatukan banyak orang dalam kenikmatan setiap gigitan kue berserat yang memukau ini.

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengejar Lumba-Lumba Liar di Pantai Lovina saat Matahari Terbit

    Mengejar Lumba-Lumba Liar di Pantai Lovina saat Matahari Terbit

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Jika Anda mencari pengalaman wisata unik di Bali Utara, jangan lewatkan kesempatan untuk mengejar lumba-lumba liar di Pantai Lovina saat fajar menyingsing. Lovina, yang terkenal dengan pantainya yang tenang berpasir hitam, menawarkan pemandangan spektakuler ratusan lumba-lumba yang berenang dan melompat di laut lepas, terutama saat matahari baru mulai memancarkan cahayanya. Petualangan Dini Hari yang Memukau […]

  • Panduan Lengkap Pernikahan di Bali: Mewujudkan Pernikahan Impianmu

    Panduan Lengkap Pernikahan di Bali: Mewujudkan Pernikahan Impianmu

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Bali, dengan lanskapnya yang memukau dan budayanya yang kaya, adalah destinasi impian bagi banyak pasangan untuk mengikat janji suci. Merencanakan pernikahan di Bali bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan, namun penting untuk memahami setiap langkahnya. Panduan lengkap ini akan membahas semua yang perlu Anda ketahui, mulai dari pemilihan venue hingga aspek legalitas pernikahan di Pulau […]

  • Tanya Jawab Seputar LMKN: Mengurai Kebingungan Publik

    Tanya Jawab Seputar LMKN: Mengurai Kebingungan Publik

    • calendar_month Jum, 22 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Meskipun perannya krusial, Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) seringkali menjadi subjek kebingungan di mata publik. Untuk mengurai miskonsepsi tersebut, berikut adalah sesi tanya jawab yang merangkum pertanyaan-pertanyaan paling umum seputar LMKN. 1. Apa perbedaan LMKN dengan LMK? LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) seperti WAMI, KCI, dan RAI adalah organisasi yang didirikan oleh para pencipta dan pemilik […]

  • Sistem Moneter Bretton Woods: Sejarah, Standar Emas, dan Keruntuhannya 🌍

    Sistem Moneter Bretton Woods: Sejarah, Standar Emas, dan Keruntuhannya 🌍

    • calendar_month Jum, 3 Okt 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Sistem Bretton Woods adalah perjanjian penting yang dirancang pada tahun 1944 di sebuah konferensi di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah menciptakan kerangka kerja moneter internasional yang stabil setelah Depresi Besar dan Perang Dunia II. Sistem ini berusaha mencegah devaluasi mata uang yang kompetitif dan mendorong pertumbuhan perdagangan global.     Standar […]

  • Obligasi Hijau: Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal

    Obligasi Hijau: Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal

    • calendar_month Kam, 26 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Kesadaran akan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim mendorong transformasi di berbagai sektor, termasuk pasar modal. Salah satu instrumen investasi yang semakin populer adalah obligasi hijau. Obligasi hijau adalah surat utang yang dana hasil penerbitannya secara eksklusif digunakan untuk membiayai atau membiayai kembali proyek-proyek yang memberikan manfaat positif bagi lingkungan. Ini menjadikan obligasi hijau sebagai pilihan […]

  • Petani sebagai Penjaga Iklim: Mengurangi Jejak Karbon di Sektor Pertanian

    Petani sebagai Penjaga Iklim: Mengurangi Jejak Karbon di Sektor Pertanian

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Perubahan iklim adalah tantangan global, dan sektor pertanian memiliki peran penting, baik sebagai kontributor emisi maupun sebagai bagian dari solusi. Dengan mengadopsi praktik-praktik yang tepat, petani dapat secara signifikan mengurangi jejak karbon mereka, membantu melindungi lingkungan, dan membangun pertanian yang lebih tangguh. Mengelola Tanah dengan Bijak: Kunci Utama Langkah pertama dalam mengurangi jejak karbon adalah […]

expand_less