Minggu, 15 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Merariq: Tradisi Kawin Lari Suku Sasak yang Penuh Gengsi dan Keberanian

Merariq: Tradisi Kawin Lari Suku Sasak yang Penuh Gengsi dan Keberanian

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Kam, 3 Jul 2025
  • visibility 75
  • comment 0 komentar

Lombok, permata Nusa Tenggara Barat, menyimpan kekayaan budaya yang memukau, salah satunya adalah tradisi perkawinan unik bernama Merariq. Bagi Suku Sasak, Merariq bukan sekadar kawin lari biasa, melainkan sebuah ritual adat yang sarat akan gengsi dan keberanian. Prosesinya yang khas dan syarat makna menjadikannya daya tarik tersendiri sekaligus cerminan nilai-nilai sosial masyarakat Sasak.

Secara harfiah, Merariq berarti “melarikan diri.” Namun, dalam konteks adat Sasak, tindakan ini dilakukan dengan perencanaan matang dan persetujuan dari pihak mempelai wanita. Biasanya, pihak pria akan memberitahukan niatnya kepada keluarga wanita, meskipun seringkali dilakukan secara diam-diam untuk menghindari proses lamaran formal yang panjang dan rumit.

Keberanian menjadi kunci utama dalam tradisi Merariq. Pihak pria dituntut untuk berani “menculik” calon istrinya, meskipun seringkali hanya bersifat simbolis. Setelah berhasil membawa pergi sang wanita, pihak keluarga pria akan memberitahukan keluarga wanita mengenai keberadaan putri mereka. Selanjutnya, kedua belah pihak keluarga akan bertemu untuk melakukan proses “nyelabar” atau perundingan damai dan penetapan mas kawin.

Gengsi dalam Merariq terletak pada bagaimana proses “penculikan” ini dilakukan. Semakin lancar dan tanpa hambatan, semakin tinggi pula gengsi pihak pria di mata masyarakat. Selain itu, kemampuan pihak pria dalam menyelesaikan proses nyelabar dengan baik juga turut menentukan status sosialnya.

Meskipun terkesan kontroversial, Merariq memiliki akar sejarah yang kuat dalam masyarakat Sasak. Tradisi ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk menghindari biaya pernikahan yang tinggi dan rumitnya birokrasi adat. Namun, seiring perkembangan zaman, Merariq juga mengalami penyesuaian. Saat ini, banyak pasangan yang melakukan Merariq sebagai simbol kemandirian dan keberanian dalam memilih pasangan hidup, dengan tetap menghormati nilai-nilai adat yang berlaku. Merariq bukan lagi sekadar kawin lari, tetapi sebuah simbol keberanian, gengsi, dan kekayaan budaya Suku Sasak yang patut dilestarikan.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Investasi Alternatif: Seni, Wine, dan Koleksi Langka

    Investasi Alternatif: Seni, Wine, dan Koleksi Langka

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Ketika berbicara tentang investasi, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada saham, obligasi, atau properti. Namun, ada dunia investasi lain yang menarik dan berpotensi menguntungkan: investasi alternatif dalam bentuk seni, wine (anggur), dan koleksi langka. Investasi alternatif pada aset-aset unik ini tidak hanya memberikan potensi keuntungan finansial, tetapi juga menawarkan kesenangan dan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. […]

  • Robotika Cerdas: Otomatisasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik di Indonesia

    Robotika Cerdas: Otomatisasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik di Indonesia

    • calendar_month Ming, 22 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Robotika cerdas bukan lagi sekadar ilustrasi fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang semakin mewarnai berbagai aspek kehidupan, termasuk di Indonesia. Dengan menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dan rekayasa robotik, teknologi ini menghadirkan otomatisasi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam sektor industri di Indonesia, robotika cerdas memainkan peran kunci dalam meningkatkan produktivitas […]

  • Akulturasi Rasa: Jejak Kuliner Arab dan India dalam Masakan Nusantara

    Akulturasi Rasa: Jejak Kuliner Arab dan India dalam Masakan Nusantara

    • calendar_month Ming, 4 Jan 2026
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Indonesia sejak lama dikenal sebagai titik temu berbagai peradaban dunia. Selain rempah-rempah aslinya, kekayaan rasa masakan Nusantara banyak dipengaruhi oleh kedatangan para pedagang dari Arab dan India berabad-abad silam. Pengaruh ini tidak hanya membawa bahan baru, tetapi juga teknik memasak yang mengubah wajah kuliner Indonesia menjadi lebih kaya dan berkarakter. Pengaruh India sangat kental terasa […]

  • Wajah Baru Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Setelah Revitalisasi

    Wajah Baru Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Setelah Revitalisasi

    • calendar_month Sel, 5 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kini tampil dengan wajah baru yang lebih modern, hijau, dan terintegrasi setelah menjalani revitalisasi besar-besaran. Destinasi wisata edukatif kebanggaan Indonesia ini tidak hanya sekadar diperbarui, tetapi juga diubah menjadi kawasan yang lebih ramah lingkungan dan nyaman untuk dikunjungi. Transformasi ini menjadikan TMII sebagai destinasi yang wajib dikunjungi, baik bagi wisatawan […]

  • PPATK dan Keadilan Restoratif: Mengembalikan Kerugian Negara

    PPATK dan Keadilan Restoratif: Mengembalikan Kerugian Negara

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Pemberantasan kejahatan finansial, khususnya korupsi, tidak hanya bertujuan untuk menghukum pelaku, tetapi juga untuk memulihkan kerugian yang dialami negara. Dalam konteks ini, PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) memiliki peran sentral dalam mewujudkan konsep keadilan restoratif. Melalui analisisnya yang cermat, PPATK menjadi kunci dalam mengidentifikasi, melacak, dan mengamankan aset-aset yang harusnya menjadi milik negara. […]

  • LMKN dan Digitalisasi: Menghadapi Tantangan Hak Cipta di Era Streaming

    LMKN dan Digitalisasi: Menghadapi Tantangan Hak Cipta di Era Streaming

    • calendar_month Ming, 10 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Era digital telah mengubah cara kita mengonsumsi musik secara fundamental. Layanan streaming seperti Spotify, Joox, atau YouTube menjadi platform utama, membuka akses tak terbatas bagi pendengar. Namun, di balik kemudahan ini, muncul tantangan besar bagi perlindungan hak cipta, terutama dalam hal royalti. Di sinilah Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) memainkan peran krusial dalam menghadapi era […]

expand_less