Rabu, 10 Des 2025
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Sasando: Suara Merdu dari Daun Lontar Pulau Rote

Sasando: Suara Merdu dari Daun Lontar Pulau Rote

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
  • visibility 70
  • comment 0 komentar

Dari kepulauan timur Indonesia, tepatnya Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, lahirlah sebuah alat musik petik yang unik dan mempesona: Sasando. Dikenal karena suaranya yang merdu dan bentuknya yang eksotis, Sasando adalah salah satu harta karun musikal Indonesia yang paling istimewa, di mana alam dan seni berpadu secara harmonis.

Keunikan utama Sasando terletak pada strukturnya yang jenius. Bagian intinya adalah sebuah tabung bambu panjang yang berfungsi sebagai tempat merentangkan senar. Namun, yang membuatnya benar-benar khas adalah bagian resonatornya. Tidak seperti alat musik lain, resonator Sasando terbuat dari anyaman daun lontar kering yang dibentuk melengkung seperti kipas atau mangkuk. Wadah dari daun lontar inilah yang menangkap dan memperkuat getaran senar, menghasilkan suara lembut nan jernih yang menjadi ciri khasnya.

Secara harfiah, nama “Sasando” berarti “alat yang bergetar” atau “berbunyi”. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik menggunakan kedua tangan, di mana setiap jari memetik senar yang berbeda untuk menghasilkan nada-nada melodi dan harmoni secara bersamaan. Jumlah senarnya bervariasi, mulai dari Sasando tradisional yang berskala pentatonis hingga Sasando elektrik modern yang diatonis dengan puluhan senar.

Secara tradisional, Sasando digunakan untuk mengiringi nyanyian, syair, dan tarian dalam upacara adat masyarakat Rote. Kini, fleksibilitasnya telah membawa suara merdu Sasando ke panggung yang lebih luas, mampu membawakan berbagai genre musik dari pop, jazz, hingga klasik.

Sasando adalah bukti nyata bagaimana kreativitas manusia dapat mengubah sumber daya alam menjadi sebuah mahakarya. Suara merdunya yang mengalun dari getaran senar dan daun lontar Pulau Rote akan selalu menjadi simbol keindahan dan kearifan lokal NTT yang mendunia.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Quantitative Easing (QE): Cara Bank Sentral ‘Mencetak Uang’ untuk Selamatkan Ekonomi

    Quantitative Easing (QE): Cara Bank Sentral ‘Mencetak Uang’ untuk Selamatkan Ekonomi

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Ketika perekonomian menghadapi krisis hebat dan instrumen tradisional seperti penurunan suku bunga acuan tak lagi mempan, bank sentral akan mengeluarkan alat kebijakan moneter yang luar biasa kuat: Quantitative Easing (QE). Istilah ini sering disebut sebagai cara bank sentral “mencetak uang”, namun mekanismenya lebih kompleks dari sekadar menyalakan mesin cetak. Secara esensial, QE adalah program pembelian […]

  • Jangan Sampai Boncos! Waspada Penipuan Jasa Perbaikan Rumah yang Tidak Transparan di Indonesia

    Jangan Sampai Boncos! Waspada Penipuan Jasa Perbaikan Rumah yang Tidak Transparan di Indonesia

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Memperbaiki atau merenovasi rumah seringkali menjadi kebutuhan mendesak. Namun, mencari jasa perbaikan rumah yang terpercaya bisa menjadi tantangan tersendiri. Sayangnya, ada oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan penipuan jasa perbaikan rumah yang tidak transparan. Mereka menjanjikan pekerjaan berkualitas dengan harga miring, namun seringkali hasilnya mengecewakan bahkan merugikan. Penting untuk mengenali taktik […]

  • LMKN dan Digitalisasi: Menghadapi Tantangan Hak Cipta di Era Streaming

    LMKN dan Digitalisasi: Menghadapi Tantangan Hak Cipta di Era Streaming

    • calendar_month Ming, 10 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Era digital telah mengubah cara kita mengonsumsi musik secara fundamental. Layanan streaming seperti Spotify, Joox, atau YouTube menjadi platform utama, membuka akses tak terbatas bagi pendengar. Namun, di balik kemudahan ini, muncul tantangan besar bagi perlindungan hak cipta, terutama dalam hal royalti. Di sinilah Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) memainkan peran krusial dalam menghadapi era […]

  • Menjaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Ekonomi Global

    Menjaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Ekonomi Global

    • calendar_month Sen, 7 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Memasuki pertengahan tahun 2025, panggung ekonomi global diwarnai oleh berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik hingga ketidakpastian kebijakan moneter di negara-negara maju. Kondisi ini secara alami memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Namun, di tengah gejolak tersebut, menjaga stabilitas Rupiah tetap menjadi prioritas utama. Bank Indonesia (BI) sebagai garda terdepan stabilitas moneter, […]

  • Deteksi Anomali dan Pola Serangan Tersembunyi

    Deteksi Anomali dan Pola Serangan Tersembunyi

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Di era digital saat ini, ancaman siber menjadi semakin canggih dan sulit dideteksi. Metode keamanan tradisional yang mengandalkan signature atau aturan yang telah ditentukan seringkali tidak cukup untuk menghadapi serangan baru. Di sinilah AI untuk deteksi anomali hadir sebagai solusi proaktif, mampu mengidentifikasi kejanggalan dan menemukan pola serangan tersembunyi sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih besar. […]

  • Thomas Malthus: Prediksi Suram tentang Populasi dan Sumber Daya 💀

    Thomas Malthus: Prediksi Suram tentang Populasi dan Sumber Daya 💀

    • calendar_month Kam, 4 Des 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Thomas Robert Malthus (1766–1834) adalah seorang pendeta dan ekonom Inggris yang dikenal karena pandangannya yang sangat pesimistis tentang masa depan umat manusia. Teorinya, yang dipublikasikan dalam An Essay on the Principle of Population (1798), berpendapat bahwa populasi manusia akan tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan bumi untuk memproduksi makanan, yang pada akhirnya akan menyebabkan kemiskinan […]

expand_less