Senin, 1 Sep 2025
light_mode
Beranda » Budaya » Sekaten: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Perayaan Maulid Nabi

Sekaten: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam dalam Perayaan Maulid Nabi

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Rab, 2 Jul 2025
  • visibility 24
  • comment 0 komentar

Perayaan Sekaten adalah sebuah tradisi unik dan meriah yang digelar setiap tahun di Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lebih dari sekadar perayaan hari kelahiran Nabi, Sekaten menjadi simbol akulturasi yang indah antara budaya Jawa kuno dan nilai-nilai Islam yang masuk ke Nusantara.

Nama “Sekaten” dipercaya berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat syahadat), yang merupakan fondasi utama dalam agama Islam. Tradisi ini diperkenalkan oleh para Wali Songo sebagai salah satu cara untuk menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Dahulu, Sekaten menjadi daya tarik masyarakat untuk datang dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran serta kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Gamelan Sekati dan Pasar Rakyat

Salah satu ciri khas utama Sekaten adalah alunan merdu Gamelan Sekati. Dua set gamelan pusaka, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (di Yogyakarta) serta Kyai Guntur Sari dan Kyai Dewa Katong (di Surakarta), ditabuh secara bergantian di Pagongan Keraton selama tujuh hari berturut-turut. Suara gamelan ini dipercaya memiliki daya tarik magis dan menjadi pengiring berbagai prosesi ritual.

Selain alunan gamelan, kemeriahan Sekaten juga ditandai dengan adanya pasar rakyat atau maleman sekaten yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Pasar ini dipenuhi dengan berbagai macam pedagang yang menjajakan makanan tradisional, pakaian, mainan, hingga berbagai kerajinan. Pasar Sekaten menjadi ruang interaksi sosial dan hiburan bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

Puncak acara Sekaten adalah Grebeg Maulud, di mana gunungan yang berisi hasil bumi dan makanan akan diarak dari keraton menuju Masjid Agung. Gunungan ini kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang percaya akan membawa berkah. Sekaten adalah perpaduan harmonis antara tradisi lokal dan nilai-nilai Islam, menjadikannya perayaan Maulid Nabi yang kaya makna dan berwarna.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hudoq: Tarian Topeng Pengusir Hama Suku Dayak

    Hudoq: Tarian Topeng Pengusir Hama Suku Dayak

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Hudoq adalah sebuah ritual tari topeng tradisional yang sangat penting bagi beberapa sub-etnis Suku Dayak di Kalimantan Timur, terutama Dayak Bahau dan Modang. Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah upacara sakral yang bertujuan untuk memohon kesuburan tanah dan mengusir hama yang dapat merusak tanaman padi dan hasil panen lainnya. Hudoq merupakan bagian integral dari […]

  • Menelisik Polis Asuransi Jiwa Unit Link dari Kacamata Ekonomi

    Menelisik Polis Asuransi Jiwa Unit Link dari Kacamata Ekonomi

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Asuransi jiwa unit link adalah produk keuangan yang menggabungkan proteksi asuransi jiwa dengan potensi investasi. Popularitasnya di Indonesia cukup tinggi, namun seringkali menimbulkan pertanyaan dan kebingungan. Dari sudut pandang ekonomi, penting untuk memahami secara mendalam bagaimana produk ini bekerja sebelum memutuskan untuk memilikinya. Dualitas Manfaat: Proteksi dan Investasi Kelebihan utama unit link adalah menawarkan dua […]

  • Wayang Golek: Boneka Kayu yang Menghidupkan Cerita Mahabarata

    Wayang Golek: Boneka Kayu yang Menghidupkan Cerita Mahabarata

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Di Jawa Barat, seni pertunjukan Wayang Golek memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Lebih dari sekadar tontonan, boneka kayu yang berbusana indah ini menjadi medium penceritaan epik Mahabarata dan Ramayana, warisan budaya tak ternilai harganya. Keunikan Wayang Golek terletak pada bentuk bonekanya yang tiga dimensi, berbeda dengan wayang kulit yang pipih. Setiap karakter dalam Wayang […]

  • Nusa Dua: Kawasan Resor Mewah untuk Liburan Keluarga yang Tenang dan Aman

    Nusa Dua: Kawasan Resor Mewah untuk Liburan Keluarga yang Tenang dan Aman

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Bagi keluarga yang mendambakan sebuah liburan keluarga di Bali yang premium tanpa kompromi pada kenyamanan dan keamanan, Nusa Dua adalah jawabannya. Kawasan ini dirancang secara khusus sebagai destinasi pariwisata kelas atas yang menawarkan ketenangan, kemewahan, dan lingkungan yang sangat terkontrol, menjadikannya surga bagi para orang tua dan anak-anak. Oasis Eksklusif yang Terjaga Keistimewaan utama Nusa […]

  • Model Cournot vs. Bertrand: Memahami Kompetisi Oligopoli

    Model Cournot vs. Bertrand: Memahami Kompetisi Oligopoli

    • calendar_month Ming, 24 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Pasar oligopoli adalah struktur di mana hanya ada beberapa perusahaan yang dominan, sehingga setiap keputusan perusahaan secara signifikan memengaruhi pasar dan pesaing lainnya. Dalam menganalisis perilaku perusahaan-perusahaan ini, para ekonom menggunakan model-model yang berbeda, dua yang paling terkenal adalah Model Cournot dan Model Bertrand. Perbedaan utama terletak pada variabel strategi yang digunakan oleh perusahaan: kuantitas […]

  • Waspada “Halo Dek”: Modus Penipuan Baru yang Meresahkan di Indonesia

    Waspada “Halo Dek”: Modus Penipuan Baru yang Meresahkan di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Masyarakat Indonesia kembali diresahkan dengan munculnya modus penipuan baru yang dikenal dengan istilah “Halo Dek”. Modus ini memanfaatkan panggilan telepon acak dari nomor yang tidak dikenal, di mana penelepon akan langsung menyapa dengan sapaan akrab “Halo Dek” atau variasi sapaan familial lainnya. Tujuannya adalah untuk membangun kedekatan semu dan mengeksploitasi psikologis korban agar terperangkap dalam […]

expand_less