Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Tradisi Lisan Didong Gayo: Adu Puisi Semalam Suntuk

Tradisi Lisan Didong Gayo: Adu Puisi Semalam Suntuk

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Kam, 10 Jul 2025
  • visibility 174
  • comment 0 komentar

Dari dataran tinggi Gayo, Aceh, lahirlah sebuah tradisi lisan yang memukau bernama Didong Gayo. Ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah perpaduan harmonis antara sastra (puisi), vokal, dan gerak tepuk tangan yang penuh makna. Didong Gayo telah menjadi media dakwah, pendidikan, dan perekat sosial bagi masyarakat Gayo selama berabad-abad.

Pertunjukan Didong Gayo biasanya berupa sebuah kompetisi atau adu puisi yang bisa berlangsung semalam suntuk. Dua kelompok akan saling berhadapan, masing-masing dipimpin oleh seorang seniman ahli yang disebut ceh. Sambil duduk bersila, mereka akan melantunkan syair secara bergantian, diiringi tepukan bantal kecil dan tangan yang menciptakan irama khas dan membangkitkan semangat penonton.

Keindahan Didong tidak hanya terletak pada iramanya, tetapi juga pada kedalaman liriknya. Syair yang dilantunkan seringkali berisi nasihat, kritik sosial, sejarah, ajaran agama, hingga humor. Melalui adu puisi ini, para ceh beradu kecerdasan dalam merangkai kata, menyampaikan pesan moral, dan mempertahankan nilai-nilai luhur budaya Gayo.

Sebagai salah satu seni Gayo yang paling berharga, Didong Gayo telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi ini adalah bukti hidup bagaimana sebuah komunitas merawat ingatan kolektif dan kearifan lokalnya. Didong adalah panggung intelektual rakyat yang terus bergema, menjaga denyut kebudayaan di Aceh Tengah dan sekitarnya.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasi Kucing: Filosofi Kesederhanaan dalam Bungkus Daun Pisang

    Nasi Kucing: Filosofi Kesederhanaan dalam Bungkus Daun Pisang

    • calendar_month Sel, 16 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Siapa pun yang pernah berkunjung ke Yogyakarta pasti tak asing dengan Nasi Kucing. Makanan ikonik ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kuat dari budaya angkringan yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan kebersamaan. Dinamakan “nasi kucing” karena porsinya yang sangat mini, mirip porsi makan seekor kucing. Dalam sebungkus kecil nasi yang dibungkus daun pisang, biasanya terdapat sejumput […]

  • Ancaman di Balik Layar: Mengenali Modus Penipuan Online

    Ancaman di Balik Layar: Mengenali Modus Penipuan Online

    • calendar_month Rab, 18 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Di era digital yang serba terkoneksi ini, aktivitas online menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Mulai dari berbelanja, bertransaksi, hingga bersosialisasi, semua dilakukan melalui internet. Namun, kemudahan ini juga dibarengi dengan risiko yang tak kalah besar: penipuan online. Para penipu terus mengembangkan modus operandi mereka, memanfaatkan kelengahan dan ketidaktahuan korban. Mengenali berbagai modus penipuan […]

  • Mengejar Lumba-Lumba Liar di Pantai Lovina saat Matahari Terbit

    Mengejar Lumba-Lumba Liar di Pantai Lovina saat Matahari Terbit

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Jika Anda mencari pengalaman wisata unik di Bali Utara, jangan lewatkan kesempatan untuk mengejar lumba-lumba liar di Pantai Lovina saat fajar menyingsing. Lovina, yang terkenal dengan pantainya yang tenang berpasir hitam, menawarkan pemandangan spektakuler ratusan lumba-lumba yang berenang dan melompat di laut lepas, terutama saat matahari baru mulai memancarkan cahayanya. Petualangan Dini Hari yang Memukau […]

  • Rijsttafel: Jejak Kemewahan Kolonial di Atas Meja Makan

    Rijsttafel: Jejak Kemewahan Kolonial di Atas Meja Makan

    • calendar_month Sel, 26 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Rijsttafel, atau “meja nasi” dalam bahasa Belanda, adalah sebuah jamuan makan yang megah, mencerminkan akulturasi budaya antara Indonesia dan Belanda pada masa kolonial. Lebih dari sekadar deretan hidangan, rijsttafel adalah representasi visual dan gastronomi dari kekayaan rempah dan keragaman kuliner Nusantara yang disajikan dengan sentuhan Eropa. Awalnya diciptakan sebagai cara bagi bangsa Belanda untuk menikmati […]

  • Jebakan Penipuan Lelang Online Berkedok Amal: Ketika Kebaikan Disalahgunakan

    Jebakan Penipuan Lelang Online Berkedok Amal: Ketika Kebaikan Disalahgunakan

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Lelang online yang bertujuan amal (charity auction) seharusnya menjadi wadah yang mulia. Namun, modus ini kini disalahgunakan oleh para penipu yang memanfaatkan empati dan keinginan kita untuk berbuat baik. Mereka menciptakan Jebakan Penipuan Lelang Online Berkedok Amal untuk mencuri dana dengan menyentuh sisi kemanusiaan korbannya. Penipu biasanya membuat akun media sosial atau situs web yang […]

  • Pembangunan Berkelanjutan: Menyeimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan

    Pembangunan Berkelanjutan: Menyeimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Di tengah tuntutan zaman untuk terus maju, kita sering dihadapkan pada sebuah persimpangan krusial: memilih antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Namun, konsep pembangunan berkelanjutan hadir untuk mendobrak dikotomi ini. Ia menawarkan sebuah visi di mana kemajuan ekonomi dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab ekologis dan sosial. Secara definisi, pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan yang […]

expand_less