Dilema Tahanan: Mengapa Kerjasama Sulit Terwujud di Dunia Bisnis
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sen, 11 Agu 2025
- visibility 12
- comment 0 komentar

Dilema Tahanan (Prisoner’s Dilemma) adalah konsep sentral dalam teori permainan yang secara brilian menggambarkan mengapa dua individu atau entitas rasional, meskipun akan mendapat hasil yang lebih baik jika mereka bekerja sama, seringkali memilih untuk mengkhianati satu sama lain demi keuntungan pribadi. Dilema ini menyoroti konflik antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif. Konsep ini memiliki banyak contoh nyata dalam dunia bisnis dan ekonomi.
Konsep Dasar Dilema Tahanan
Bayangkan dua tahanan ditangkap karena kejahatan ringan. Mereka diinterogasi di ruang terpisah dan diberikan pilihan:
Jika keduanya bungkam: Mereka akan dihukum ringan (misalnya, 1 tahun penjara). Ini adalah hasil terbaik bagi keduanya.
Jika salah satu mengkhianati (bersaksi) dan yang lain bungkam: Pengkhianat akan dibebaskan, sementara yang bungkam akan dihukum berat (misalnya, 10 tahun penjara).
Jika keduanya saling mengkhianati: Keduanya akan dihukum sedang (misalnya, 5 tahun penjara).
Dari sudut pandang rasional, setiap tahanan akan berpikir: “Jika dia bungkam, lebih baik aku mengkhianati agar bebas. Jika dia mengkhianati, lebih baik aku juga mengkhianati agar hukuman tidak terlalu berat.” Hasilnya, meskipun opsi terbaik bagi keduanya adalah bungkam, mereka berdua akan saling mengkhianati.
Contoh Nyata dalam Dunia Bisnis
Dilema Iklan: Bayangkan dua perusahaan smartphone yang bersaing ketat. Jika keduanya tidak beriklan, mereka bisa menghemat biaya dan mendapatkan keuntungan yang optimal. Namun, jika salah satu beriklan, ia bisa menarik pelanggan pesaing dan mendapatkan keuntungan lebih. Ini mendorong keduanya untuk beriklan, yang pada akhirnya membuat keuntungan keduanya berkurang karena biaya promosi.
Strategi Harga: Dua toko ritel yang menjual produk serupa berada dalam dilema harga. Jika keduanya menjaga harga tetap tinggi, mereka bisa sama-sama untung. Namun, ada godaan bagi salah satu toko untuk menurunkan harga, berharap menarik semua pelanggan dari pesaing. Akibatnya, toko pesaing juga akan menurunkan harga, memicu perang harga yang akhirnya merugikan kedua belah pihak.
Perjanjian Kartel: Beberapa perusahaan mungkin setuju untuk membatasi produksi untuk menaikkan harga. Namun, ada insentif besar bagi setiap perusahaan untuk diam-diam melanggar perjanjian dan memproduksi lebih banyak untuk keuntungan ekstra. Jika semua orang berpikir demikian, perjanjian akan runtuh dan harga akan kembali normal.
Dilema Tahanan mengajarkan kita bahwa dalam persaingan, kepercayaan dan kerja sama sulit untuk dipertahankan, bahkan ketika itu adalah pilihan yang paling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar