Indeks Harga Konsumen (IHK): Di Balik Layar Cara BPS Mengukur Inflasi
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Kam, 28 Agu 2025
- visibility 3
- comment 0 komentar

Pernahkah Anda mendengar istilah inflasi dan bertanya-tanya bagaimana angka tersebut dihitung? Di Indonesia, lembaga yang bertanggung jawab mengukur inflasi adalah Badan Pusat Statistik (BPS), dan alat ukur utamanya adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK adalah indikator kunci yang mencerminkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Memahami cara BPS menyusun IHK penting untuk mengetahui gambaran inflasi yang akurat.
Apa Itu IHK dan Bagaimana Dihitung?
IHK adalah ukuran statistik yang membandingkan harga sekelompok barang dan jasa tertentu (disebut paket komoditas) dari waktu ke waktu. BPS secara berkala melakukan survei harga di berbagai pasar tradisional, supermarket, hingga penyedia jasa di seluruh kota yang menjadi sampel. Data harga ini kemudian diolah untuk menghitung perubahan IHK.
Prosesnya dimulai dengan penentuan tahun dasar, yaitu tahun di mana IHK ditetapkan sebesar 100. Perubahan IHK dari tahun dasar atau periode sebelumnya menunjukkan tingkat inflasi atau deflasi. Rumus dasar perhitungan IHK adalah rasio antara total harga paket komoditas di periode berjalan dengan total harga paket komoditas yang sama di tahun dasar, kemudian dikalikan 100.
Paket Komoditas dan Survei Biaya Hidup
Salah satu aspek krusial dalam perhitungan IHK adalah penetapan paket komoditas. Paket ini tidak sembarang dipilih, melainkan berdasarkan hasil Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan BPS secara periodik (biasanya setiap lima tahun sekali, seperti SBH 2018 yang digunakan untuk perhitungan IHK saat ini). SBH mengumpulkan data rinci tentang pola konsumsi rumah tangga di berbagai wilayah, mulai dari makanan, minuman, perumahan, transportasi, pendidikan, hingga rekreasi.
Dari SBH inilah, BPS menentukan barang dan jasa apa saja yang paling banyak dikonsumsi dan berapa bobot (weight) masing-masing komoditas dalam total pengeluaran rumah tangga. Komoditas yang memiliki bobot lebih besar akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap perubahan IHK. Misalnya, jika harga beras naik, dampaknya terhadap inflasi akan lebih besar dibandingkan kenaikan harga permen karena bobot beras dalam pengeluaran rumah tangga jauh lebih tinggi.
Mengapa IHK Penting?
IHK memiliki peran vital karena beberapa alasan:
Indikator Inflasi: Ini adalah ukuran utama inflasi, yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Dasar Pengambilan Kebijakan: Bank Indonesia dan pemerintah menggunakan data IHK untuk merumuskan kebijakan moneter dan fiskal, misalnya dalam menentukan suku bunga acuan atau kebijakan harga.
Penyesuaian Gaji dan Upah: IHK sering menjadi acuan dalam negosiasi kenaikan upah minimum atau penyesuaian gaji.
Evaluasi Kinerja Ekonomi: Perubahan IHK memberikan gambaran tentang stabilitas harga dan kesehatan ekonomi suatu negara.
Dengan pemahaman tentang bagaimana BPS mengukur IHK, kita bisa lebih kritis dalam menafsirkan angka inflasi dan memahami implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari kita.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar