Minggu, 22 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Milton Friedman dan Aliran Monetaris: “Inflasi Adalah Fenomena Moneter” 💸

Milton Friedman dan Aliran Monetaris: “Inflasi Adalah Fenomena Moneter” 💸

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
  • visibility 79
  • comment 0 komentar

Milton Friedman (1912–2006) adalah salah satu ekonom paling berpengaruh di abad ke-20 dan pemimpin utama Aliran Monetaris dari Universitas Chicago. Kontribusi terbesarnya adalah menghidupkan kembali peran penting uang dalam menentukan hasil ekonomi, sebuah pandangan yang sempat terpinggirkan oleh dominasi teori Keynesian setelah Depresi Besar.

Inflasi sebagai Fenomena Moneter

Gagasan Friedman yang paling terkenal dan sering dikutip adalah: “Inflasi selalu dan di mana saja merupakan fenomena moneter.” Frasa ini merangkum inti dari teori monetaris. Friedman berpendapat bahwa kenaikan harga secara umum (inflasi) tidak disebabkan oleh kekuatan serikat pekerja, pengeluaran pemerintah yang boros, atau kenaikan harga minyak, melainkan oleh pertumbuhan jumlah uang beredar yang lebih cepat daripada pertumbuhan output perekonomian.

Sederhananya, jika ada lebih banyak uang yang mengejar jumlah barang dan jasa yang sama, nilai setiap unit uang akan turun, dan harga akan naik. Menurut Friedman, jika bank sentral mencetak uang terlalu banyak dan terlalu cepat, inflasi adalah hasil yang tak terhindarkan.

Kritik terhadap Keynesianisme

Aliran Monetaris Friedman secara fundamental menentang intervensi pemerintah yang dianjurkan oleh John Maynard Keynes. Friedman berpendapat bahwa upaya pemerintah untuk “menyetel halus” perekonomian melalui belanja fiskal atau kebijakan moneter jangka pendek sering kali berbahaya dan tidak efektif dalam jangka panjang, karena adanya time lag (jeda waktu) dalam dampak kebijakan.

Friedman mengadvokasi kebijakan moneter yang sederhana dan stabil. Ia menyarankan agar bank sentral hanya fokus pada satu hal: mempertahankan pertumbuhan jumlah uang beredar pada tingkat yang konstan (seperti 3% hingga 5% per tahun), sejalan dengan tingkat pertumbuhan potensial riil perekonomian. Tujuan tunggal ini, katanya, akan memastikan stabilitas harga dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan pasar bebas.

Meskipun monetarisme tidak lagi menjadi satu-satunya panduan kebijakan, warisan Friedman tetap kuat. Bank sentral modern di seluruh dunia—bahkan yang tidak sepenuhnya monetaris—tetap memprioritaskan pengendalian inflasi sebagai tujuan utama mereka, sebuah penghormatan langsung terhadap wawasan mendasar Milton Friedman.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Emas Hari Ini: Peluang Investasi atau Sekadar Fluktuasi?

    Harga Emas Hari Ini: Peluang Investasi atau Sekadar Fluktuasi?

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Investasi emas selalu menjadi pilihan menarik bagi banyak orang, terutama di Indonesia. Logam mulia ini dikenal sebagai aset safe-haven yang nilainya cenderung stabil dan bahkan meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi. Lalu, bagaimana pergerakan harga emas hari ini, Jumat, 25 Juli 2025? Berdasarkan informasi terbaru dari Logam Mulia (logammulia.com) pada pukul 08:25 WIB, harga emas Antam […]

  • Di Balik Layar LMKN: Proses Pengumpulan Royalti dari Berbagai Sektor

    Di Balik Layar LMKN: Proses Pengumpulan Royalti dari Berbagai Sektor

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana musisi mendapatkan royalti dari lagu mereka yang diputar di mana-mana? Jawabannya ada pada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Sebagai jembatan utama, LMKN memiliki proses pengumpulan royalti yang terstruktur dari berbagai sektor, memastikan hak ekonomi para pencipta terlindungi. Mari kita telusuri bagaimana proses ini berjalan di balik layar. Proses pengumpulan royalti LMKN […]

  • Skenario Terburuk: Konsekuensi Hukum Jika Tidak Membayar Royalti LMKN

    Skenario Terburuk: Konsekuensi Hukum Jika Tidak Membayar Royalti LMKN

    • calendar_month Ming, 24 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Dalam dunia bisnis, penggunaan karya musik, seperti memutarnya di kafe, restoran, atau saat acara, sering dianggap sepele. Namun, di balik setiap lagu ada hak cipta dan hak terkait yang dilindungi undang-undang. Tidak membayar royalti kepada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) bukanlah pilihan, melainkan pelanggaran hukum yang memiliki konsekuensi serius. Memahami skenario terburuk ini sangat penting […]

  • Kisah Haru di Tanah Suci: Pengalaman Umrah yang Menggetarkan Hati

    Kisah Haru di Tanah Suci: Pengalaman Umrah yang Menggetarkan Hati

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Perjalanan umrah bukan sekadar rukun dan ritual, tetapi juga sebuah perjalanan batin yang kerap menyentuh relung hati terdalam. Di Tanah Suci, jutaan cerita haru dan inspiratif terukir, menjadi saksi bisu atas kebesaran Allah SWT. Berikut adalah beberapa pengalaman umrah yang menggetarkan hati, mencerminkan betapa istimewanya perjalanan spiritual ini. 1. Pertemuan Tak Terduga dengan Kerabat yang […]

  • Membebaskan Diri dari Sunk Cost Fallacy: Mengambil Keputusan yang Lebih Baik

    Membebaskan Diri dari Sunk Cost Fallacy: Mengambil Keputusan yang Lebih Baik

    • calendar_month Sen, 4 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Pernahkah kamu merasa kesulitan untuk meninggalkan suatu proyek, hubungan, atau investasi, meskipun sudah jelas-jelas tidak memberikan hasil yang baik? Jika iya, kamu mungkin sedang terjebak dalam sunk cost fallacy. Ini adalah kecenderungan psikologis di mana kita terus mengalokasikan sumber daya (waktu, uang, atau tenaga) ke suatu hal karena sudah banyak yang kita korbankan di dalamnya, […]

  • ESG (Environmental, Social, Governance): Tren Investasi Berkelanjutan yang Semakin Menguat

    ESG (Environmental, Social, Governance): Tren Investasi Berkelanjutan yang Semakin Menguat

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ESG (Environmental, Social, Governance) telah bertransformasi dari sekadar wacana etis menjadi pilar utama dalam dunia investasi berkelanjutan. Investor semakin menyadari bahwa kinerja perusahaan tidak hanya diukur dari keuntungan finansial semata, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan, masyarakat, dan bagaimana perusahaan tersebut dikelola. Faktor Environmental (Lingkungan) mencakup bagaimana perusahaan berkontribusi terhadap […]

expand_less