Pertanian Bawah Tanah: Inovasi Ekstrem dari Berbagai Negara
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Jum, 7 Nov 2025
- visibility 33
- comment 0 komentar

Keterbatasan lahan dan tantangan iklim ekstrem telah mendorong para inovator untuk mencari solusi pertanian di tempat yang paling tidak terduga: di bawah permukaan tanah. Konsep Pertanian Bawah Tanah (Underground Farming) adalah salah satu inovasi paling ekstrem dan menarik yang diterapkan di berbagai negara sebagai jawaban atas kebutuhan pangan global.
Inovasi ini memanfaatkan ruang di bawah tanah, seperti bunker tua, terowongan, atau tambang yang sudah ditinggalkan. Salah satu contoh terkenal adalah di London, Inggris, di mana sebuah bekas tempat perlindungan serangan udara Perang Dunia II kini menjadi pertanian komersial yang memasok sayuran segar ke restoran-restoran lokal.
Kunci keberhasilan pertanian bawah tanah terletak pada lingkungan yang sepenuhnya terkendali. Di bawah tanah, suhu dan kelembaban cenderung stabil secara alami, meminimalkan kebutuhan energi untuk pemanasan atau pendinginan. Seperti halnya Controlled Environment Agriculture (CEA), sistem ini menggunakan teknologi LED grow lights dan hidroponik atau aeroponik untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.
Keuntungan lainnya adalah keamanan pangan yang lebih tinggi. Lingkungan tertutup di bawah tanah secara alami melindungi tanaman dari hama, penyakit, dan polusi udara, sehingga mengurangi ketergantungan pada pestisida. Selain itu, pertanian ini tahan terhadap cuaca buruk yang semakin tidak menentu di permukaan.
Pertanian bawah tanah bukan hanya tentang menanam, tetapi juga tentang memanfaatkan infrastruktur yang ada dan mengubahnya menjadi pusat produksi pangan yang berkelanjutan. Inovasi ekstrem ini membuktikan bahwa masa depan pangan mungkin terletak di tempat yang gelap, namun menghasilkan hasil yang cerah bagi ketahanan pangan perkotaan.
- Penulis: Muhamad Fatoni

Saat ini belum ada komentar