Kamis, 4 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Teknologi » Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC): Menyedot CO2 dari Udara sebagai Solusi Iklim

Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC): Menyedot CO2 dari Udara sebagai Solusi Iklim

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
  • visibility 88
  • comment 0 komentar

Di tengah perjuangan global melawan perubahan iklim, mengurangi emisi saja tidak lagi cukup. Dunia kini memerlukan teknologi yang mampu membersihkan karbon dioksida (CO2) yang sudah terlanjur ada di atmosfer. Di sinilah peran krusial Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC), sebuah inovasi terdepan yang berfungsi layaknya penyedot debu raksasa untuk gas rumah kaca.

Berbeda dari penangkapan karbon konvensional yang menyaring emisi langsung dari sumbernya seperti cerobong asap pabrik, DAC bekerja dengan cara menyaring CO2 langsung dari udara bebas. Proses ini umumnya melibatkan penggunaan kipas-kipas besar untuk menarik udara sekitar ke dalam unit kolektor. Di dalamnya, serangkaian filter khusus atau larutan kimia akan mengikat molekul CO2 secara selektif, sementara udara bersih lainnya dilepaskan kembali ke atmosfer.

Setelah terpisah, CO2 murni yang berhasil ditangkap dapat dikelola dengan dua cara utama:

* Penyimpanan Permanen: CO2 diinjeksikan ke dalam formasi geologis di bawah tanah, di mana ia akan tersimpan dengan aman selama ribuan tahun dan tidak lagi berkontribusi pada efek rumah kaca.

* Pemanfaatan Kembali (Utilization): Karbon yang ditangkap dapat diubah menjadi produk bernilai, seperti bahan bakar sintetis, bahan bangunan (beton), atau bahkan bahan baku untuk plastik dan bahan kimia lainnya, menciptakan ekonomi sirkular karbon.

Meskipun sangat menjanjikan, teknologi DAC masih menghadapi tantangan besar, terutama biaya operasional yang tinggi dan kebutuhan energi yang masif. Agar efektif, fasilitas DAC harus ditenagai oleh sumber energi bersih untuk memastikan prosesnya tidak menghasilkan lebih banyak emisi daripada yang ditangkap.

Meski begitu, DAC dianggap sebagai alat komplementer yang vital, bukan pengganti upaya pengurangan emisi. Teknologi ini sangat penting untuk menetralkan emisi dari sektor yang sulit didekarbonisasi, seperti penerbangan dan industri berat, serta untuk mencapai target ambisius net-zero emission pada pertengahan abad ini. Seiring dengan inovasi yang terus berjalan untuk menekan biayanya, DAC menjadi pilar harapan utama dalam portofolio solusi iklim global.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seren Taun: Merayakan Limpahan Berkah Panen Bersama Masyarakat Sunda Wiwitan

    Seren Taun: Merayakan Limpahan Berkah Panen Bersama Masyarakat Sunda Wiwitan

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Di tengah hijaunya pegunungan Jawa Barat, Masyarakat Sunda Wiwitan melestarikan sebuah tradisi agraris yang sarat makna, yaitu **Seren Taun**. Secara harfiah, “Seren” berarti menyerahkan dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun adalah upacara penyerahan hasil panen sebagai wujud syukur kepada Sang Hyang Kersa atas berkah yang melimpah sepanjang tahun. Upacara ini bukan sekadar pesta panen […]

  • Waspada Penipuan Bantuan Sosial Online: Jangan Terkecoh Rayuan Palsu!

    Waspada Penipuan Bantuan Sosial Online: Jangan Terkecoh Rayuan Palsu!

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Di tengah berbagai program bantuan sosial (bansos) yang disalurkan pemerintah maupun lembaga swasta di Indonesia, muncul celah yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Mereka menyebarkan informasi penipuan bantuan sosial online palsu melalui berbagai platform, seperti media sosial, aplikasi pesan instan, hingga website tidak resmi. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data pribadi, meminta biaya pendaftaran palsu, […]

  • Serabi: Kue Tradisional Berpadu Inovasi Rasa Nusantara

    Serabi: Kue Tradisional Berpadu Inovasi Rasa Nusantara

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Serabi, kue tradisional yang identik dengan kehangatan dan kebersahajaan, telah lama menjadi salah satu jajanan favorit di Indonesia. Kue berbentuk bundar pipih ini terbuat dari adonan tepung beras dan santan, dimasak di atas cetakan khusus dari tanah liat atau wajan kecil, menghasilkan tekstur lembut di dalam dan sedikit renyah di pinggirannya. Asal-usul Serabi dapat ditelusuri […]

  • commerce dan Peta Baru Persaingan Industri Ritel di Indonesia

    commerce dan Peta Baru Persaingan Industri Ritel di Indonesia

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Era di mana persaingan ritel hanya terjadi antar toko fisik di pusat perbelanjaan telah berakhir. Kehadiran e-commerce secara fundamental telah merombak peta persaingan, menciptakan medan pertempuran baru yang lebih kompleks dan tanpa batas geografis. Dulu, lokasi strategis dan etalase menarik adalah kunci kemenangan. Kini, arena persaingan telah bergeser ke ranah digital dengan aturan main yang […]

  • Menjaga Tanaman, Menghemat Air: Inovasi Irigasi Bawah Permukaan

    Menjaga Tanaman, Menghemat Air: Inovasi Irigasi Bawah Permukaan

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Kelangkaan air bersih dan tantangan perubahan iklim menuntut sektor pertanian untuk lebih efisien dalam penggunaan air. Salah satu inovasi paling menjanjikan adalah irigasi bawah permukaan atau Subsurface Drip Irrigation (SDI). Berbeda dengan irigasi konvensional, metode ini mengalirkan air langsung ke akar tanaman, meminimalkan pemborosan dan mengoptimalkan setiap tetes air. Bagaimana Irigasi Bawah Permukaan Bekerja? Alih-alih […]

  • Sejarah Angklung: Dari Ritual Pertanian hingga Panggung Dunia

    Sejarah Angklung: Dari Ritual Pertanian hingga Panggung Dunia

    • calendar_month Sab, 19 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Angklung, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan menarik, berawal dari ritual pertanian sederhana hingga memukau panggung-panggung dunia. Diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Tak Benda Kemanusiaan, angklung bukan hanya sekadar instrumen musik, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Sunda. Awal […]

expand_less