Pantun: Puisi Lama yang Tak Lekang oleh Zaman
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sel, 22 Jul 2025
- visibility 20
- comment 0 komentar

Jalan-jalan ke pasar baru, jangan lupa membeli kain.” Kalimat pembuka yang akrab di telinga ini adalah ciri khas dari Pantun, salah satu bentuk puisi lama paling populer di Nusantara. Sebagai warisan sastra lisan Melayu, pantun telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia dan sekitarnya, terbukti tak lekang oleh perkembangan zaman.
Keunikan pantun terletak pada strukturnya yang khas. Setiap bait biasanya terdiri dari empat baris dengan sajak silang a-b-a-b. Dua baris pertama disebut sampiran, yang berfungsi sebagai pengantar atau pembayang untuk menyiapkan rima dan irama. Sementara itu, dua baris terakhir disebut isi, yang merupakan inti pesan atau makna sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis pantun. Hubungan antara sampiran dan isi seringkali tidak langsung, memberikan ruang bagi keindahan dan interpretasi.
Fungsi pantun sangat beragam dan fleksibel, menjadikannya relevan dalam berbagai konteks sosial. Pantun digunakan untuk menyampaikan nasihat bijak (pantun nasihat), menghibur dengan kelucuan (pantun jenaka), memberikan teka-teki (pantun teka-teki), hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara adat dan prosesi pernikahan. Kemampuannya untuk membungkus pesan penting dalam bahasa yang indah membuatnya menjadi alat komunikasi yang efektif dan sopan.
Keagungan pantun sebagai tradisi lisan diakui secara global ketika UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2020. Pengakuan ini menegaskan betapa berharganya pantun sebagai medium ekspresi yang mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat.
Hingga kini, pantun terus hidup dan beradaptasi. Dari panggung acara adat hingga media sosial, pantun tetap menjadi cara yang cerdas dan artistik untuk berekspresi. Inilah bukti bahwa pantun bukan sekadar puisi lama, melainkan sebuah tradisi hidup yang akan terus bergema di masa depan.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar