Jejak Tionghoa dalam Semangkuk Kehangatan Soto Nusantara
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Jum, 22 Agu 2025
- visibility 10
- comment 0 komentar

Soto, salah satu sup tradisional Indonesia yang kaya akan variasi di berbagai daerah, ternyata menyimpan jejak akulturasi budaya, khususnya dengan Tiongkok. Meskipun kini dianggap sebagai hidangan otentik Nusantara, beberapa elemen dalam soto diperkirakan memiliki pengaruh dari kuliner Tionghoa yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan imigrasi berabad-abad lalu.
Salah satu indikasi pengaruh Tiongkok adalah penggunaan bihun atau soun sebagai salah satu isian soto. Kedua jenis mie tipis ini berasal dari Tiongkok dan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai jenis soto di Indonesia, seperti Soto Ayam, Soto Betawi, dan Soto Lamongan. Kehadiran mie dalam sup berkuah ini berbeda dengan tradisi sup-sup awal di Nusantara yang umumnya tidak menggunakan bahan dasar mie.
Selain mie, beberapa sumber juga menyebutkan adanya pengaruh teknik memasak dan penggunaan bahan-bahan tertentu. Misalnya, penggunaan lobak dalam beberapa varian soto, atau teknik pembuatan bakso yang sering menjadi pelengkap soto, memiliki akar dalam kuliner Tionghoa. Meskipun demikian, bahan-bahan ini kemudian diolah dengan bumbu-bumbu rempah khas Indonesia, menciptakan cita rasa soto yang unik dan berbeda.
Proses adaptasi ini menunjukkan bagaimana terjadi perpaduan antara budaya kuliner yang dibawa oleh pendatang dengan kekayaan bahan dan cita rasa lokal. Para pedagang dan imigran Tiongkok tidak hanya membawa bahan makanan baru, tetapi juga teknik memasak yang kemudian diolah dan disesuaikan dengan lidah masyarakat Nusantara.
Kini, soto hadir dalam berbagai rupa di seluruh Indonesia, masing-masing dengan kekhasan dan cita rasanya sendiri. Namun, jejak akulturasi dengan Tiongkok tetap terlihat dalam beberapa elemennya, menjadi bukti bisu tentang interaksi budaya yang telah berlangsung lama dan menghasilkan kekayaan kuliner yang kita nikmati hingga saat ini. Semangkuk soto yang hangat bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan sejarah dan percampuran budaya di Nusantara.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar