Perangkap Likuiditas: Ketika Kebijakan Moneter Bank Sentral Tak Lagi Ampuh
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sel, 26 Agu 2025
- visibility 3
- comment 0 komentar

Dalam kondisi ekonomi normal, bank sentral memiliki beragam instrumen kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan. Penurunan suku bunga acuan, misalnya, diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pelaku bisnis untuk lebih banyak berutang dan berinvestasi, sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi. Namun, apa jadinya jika kebijakan moneter ini kehilangan daya magisnya? Inilah yang disebut dengan perangkap likuiditas.
Perangkap likuiditas adalah situasi di mana suku bunga nominal telah mencapai titik nol atau mendekatinya, dan penambahan likuiditas ke dalam sistem keuangan oleh bank sentral tidak lagi efektif dalam menstimulasi permintaan agregat. Mengapa demikian? Karena ekspektasi masyarakat dan pelaku bisnis terhadap kondisi ekonomi yang buruk di masa depan sangat kuat.
Ketika suku bunga sudah sangat rendah, bahkan mendekati nol, insentif untuk menyimpan uang tunai menjadi sangat tinggi. Masyarakat dan perusahaan lebih memilih menahan uang tunai (liquidity preference) daripada menginvestasikannya, meskipun biaya pinjaman sangat murah. Mereka khawatir tentang prospek bisnis yang suram, potensi penurunan harga aset, atau ketidakpastian ekonomi lainnya. Akibatnya, injeksi dana dari bank sentral hanya akan “mengendap” di bank-bank atau disimpan dalam bentuk tunai, tanpa memicu peningkatan pengeluaran atau investasi riil.
Dampak Perangkap Likuiditas
Perangkap likuiditas dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian. Pertumbuhan ekonomi melambat atau bahkan kontraksi, inflasi tetap rendah meskipun bank sentral telah melakukan pelonggaran moneter, dan risiko deflasi meningkat. Kebijakan moneter konvensional menjadi tidak efektif, dan bank sentral kehilangan kemampuannya untuk mengatasi krisis ekonomi.
Contoh dan Solusi
Jepang pada era 1990-an sering dianggap sebagai contoh klasik negara yang terperangkap dalam likuiditas. Meskipun suku bunga telah dipangkas hingga mendekati nol, pertumbuhan ekonomi tetap stagnan. Beberapa ekonom berpendapat bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya juga sempat mengalami kondisi serupa pasca krisis keuangan 2008.
Menghadapi perangkap likuiditas, bank sentral mungkin perlu mempertimbangkan kebijakan moneter non-konvensional, seperti quantitative easing (QE), di mana bank sentral membeli aset jangka panjang untuk menurunkan suku bunga jangka panjang dan memberikan sinyal komitmen untuk mempertahankan kebijakan akomodatif. Selain itu, kebijakan fiskal ekspansif (peningkatan belanja pemerintah atau penurunan pajak) seringkali menjadi andalan untuk menstimulasi permintaan agregat ketika kebijakan moneter tidak lagi efektif. Namun, kebijakan fiskal juga memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait dengan peningkatan utang publik.
Perangkap likuiditas adalah fenomena kompleks yang menantang efektivitas kebijakan moneter. Memahaminya penting bagi para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi krisis ekonomi yang parah. 🤔
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar