Proses di Balik Terasi: Bumbu “Busuk” yang Menggugah Selera
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar

Terasi, si bumbu mungil berwarna kehitaman dengan aroma tajam yang khas, seringkali menjadi bahan perdebatan. Sebagian orang mungkin menganggapnya “busuk” karena baunya yang menyengat, namun bagi para pencinta kuliner Indonesia, terasi adalah rahasia di balik cita rasa menggugah selera pada banyak hidangan. Lebih dari sekadar penambah rasa, terasi adalah hasil dari sebuah proses tradisional yang unik, mengubah udang rebon atau ikan kecil menjadi bumbu ajaib.
Proses pembuatan terasi adalah sebuah seni fermentasi yang telah diwariskan turun-temurun. Dimulai dengan pemilihan bahan baku segar, biasanya udang rebon atau ikan-ikan kecil, yang kemudian dicuci bersih. Setelah itu, bahan baku dicampur dengan garam, sebuah langkah krusial untuk memulai proses fermentasi sekaligus sebagai pengawet alami.
Campuran ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Penjemuran tidak hanya mengurangi kadar air, tetapi juga membantu proses fermentasi. Selama penjemuran, adonan terasi akan dihancurkan atau digiling, lalu dibentuk menjadi balok-balok padat. Proses penjemuran dan penggilingan ini bisa diulang beberapa kali, tergantung pada kualitas terasi yang diinginkan. Semakin lama proses fermentasi dan penjemuran, semakin pekat aroma dan warnanya, serta semakin kaya rasa umaminya.
Meskipun aromanya kuat saat mentah, ketika terasi dimasak—biasanya dengan cara dibakar atau digoreng sebentar—ia akan melepaskan profil rasa umami yang mendalam, asin, dan sedikit manis. Terasi menjadi bintang dalam sambal, tumisan sayur, nasi goreng, bahkan berbagai masakan berkuah. Ini membuktikan bahwa di balik penampilan dan aroma yang mungkin menipu, terasi adalah bumbu esensial yang memberikan karakter unik dan kelezatan tak tergantikan pada masakan Indonesia. Terasi adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu mengubah bahan sederhana menjadi mahakarya kuliner.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar