Budaya “Ngeliwet”: Makan Bersama di Atas Daun Pisang
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Sab, 13 Sep 2025
- visibility 106
- comment 0 komentar

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, ada satu tradisi kuno yang kembali menemukan tempatnya di hati banyak orang: budaya “ngeliwet”. Lebih dari sekadar makan bersama, ngeliwet adalah sebuah ritual komunal yang sarat makna, di mana kebersamaan dan kesederhanaan menjadi bintang utamanya. Tradisi yang berasal dari tanah Sunda ini mengundang kita untuk kembali terhubung dengan alam dan satu sama lain melalui cara yang paling otentik.
Inti dari ngeliwet adalah nasi liwet yang dimasak dengan santan, serai, daun salam, dan cabai, memberikan aroma wangi yang begitu menggugah selera. Setelah matang, nasi ini dituang langsung di atas hamparan daun pisang yang panjang, disebar merata di sepanjang meja atau tikar. Kemudian, aneka lauk pauk tradisional ditata di sekeliling nasi, menciptakan sebuah “prasmanan” alami yang begitu kaya warna dan rasa.
Lauk-pauk yang biasa menemani ngeliwet sangat beragam. Mulai dari ayam goreng atau bakar, aneka ikan asin, tahu dan tempe goreng, hingga sayur lalapan segar, sambal, dan kerupuk. Semua hidangan ini disusun sedemikian rupa, memanjakan mata sekaligus menggugah selera.
Yang paling spesial dari ngeliwet adalah cara makannya. Semua orang akan duduk melingkar di sekitar hamparan daun pisang, makan bersama-sama menggunakan tangan. Tradisi ini menghapus sekat-sekat sosial dan menciptakan suasana yang akrab, hangat, dan penuh canda tawa. Di sini, yang terpenting bukanlah kemewahan, melainkan kebersamaan dan kenikmatan sederhana yang tercipta.
Budaya ngeliwet adalah pengingat akan pentingnya menghargai momen bersama dan bersyukur atas rezeki yang ada. Ia adalah ajakan untuk meninggalkan sejenak gadget, bersantai, dan menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan yang indah. Ngeliwet bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang menciptakan kenangan dan mempererat tali silaturahmi yang berharga.
- Penulis: Muhamad Fatoni

Saat ini belum ada komentar