Jumat, 6 Feb 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Kuliner Ekstrem Indonesia: Lebih dari Sekadar Makanan

Kuliner Ekstrem Indonesia: Lebih dari Sekadar Makanan

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
  • visibility 45
  • comment 0 komentar

Di balik kekayaan kuliner Indonesia yang terkenal lezat, tersimpan sisi lain yang tak kalah menarik dan berani: kuliner ekstrem. Bagi banyak orang, hidangan ini mungkin terdengar aneh atau bahkan mengerikan, namun bagi sebagian masyarakat, kuliner ekstrem adalah bagian dari tradisi, kearifan lokal, dan cara bertahan hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun. Makanan-makanan ini adalah bukti betapa beragamnya selera dan budaya makan di Nusantara.

Salah satu yang paling terkenal adalah ulat sagu, makanan pokok masyarakat di Papua dan sebagian Maluku. Ulat-ulat gemuk ini, yang hidup di dalam batang pohon sagu yang membusuk, biasanya dimakan mentah-mentah atau dibakar. Meskipun penampilannya mungkin mengejutkan, ulat sagu memiliki rasa gurih seperti santan dan tekstur kenyal, serta kaya akan protein, menjadikannya sumber gizi penting bagi masyarakat setempat.

Bergeser ke Sulawesi Utara, kita akan menemukan daging tikus panggang yang menjadi santapan lazim di daerah Minahasa. Bukan tikus got, melainkan tikus hutan yang diolah dengan bumbu rica-rica yang pedas. Dagingnya yang empuk dan dibakar hingga kering memberikan sensasi rasa yang berbeda. Bagi masyarakat lokal, mengonsumsi tikus adalah bagian dari tradisi, bukan hal yang tabu.

Di beberapa daerah di Jawa, belalang goreng menjadi camilan yang populer, terutama saat musim panen. Belalang, yang kaya protein, digoreng dengan bumbu bawang putih dan garam hingga renyah. Rasanya gurih dan garing, mirip dengan udang goreng kering.

 

Kuliner ekstrem di Indonesia tidak lahir dari keinginan untuk mencari sensasi semata. Ia adalah manifestasi dari adaptasi manusia terhadap lingkungan, memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia untuk kelangsungan hidup. Makanan-makanan ini adalah pengingat bahwa definisi “lezat” sangatlah relatif dan sering kali terikat pada budaya, sejarah, serta kondisi geografis sebuah masyarakat.

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasar Derivatif: Memahami Kontrak Berjangka dan Opsi

    Pasar Derivatif: Memahami Kontrak Berjangka dan Opsi

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Bagi investor yang sudah berpengalaman, pasar derivatif menawarkan instrumen canggih untuk tujuan lindung nilai (hedging) maupun spekulasi. Secara sederhana, derivatif adalah kontrak finansial yang nilainya diturunkan dari aset dasar lain, seperti saham, obligasi, komoditas, atau mata uang. Dua produk yang paling populer di pasar derivatif adalah kontrak berjangka (futures) dan opsi (options). Meskipun sering disebut […]

  • Mantar Betawi: Seni Berbalas Pantun Memeriahkan Pernikahan Tradisional

    Mantar Betawi: Seni Berbalas Pantun Memeriahkan Pernikahan Tradisional

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Pernikahan adat Betawi kaya akan prosesi unik dan meriah, salah satunya adalah tradisi Mantar. Tradisi ini merupakan seni berbalas pantun yang dilantunkan oleh perwakilan dari pihak pengantin pria dan wanita. Lebih dari sekadar hiburan, Mantar menjadi bagian penting dalam menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, serta menciptakan suasana hangat dan penuh kekeluargaan dalam acara pernikahan. Makna […]

  • Uranium sebagai Pelacak (Tracer) dalam Geologi dan Hidrologi

    Uranium sebagai Pelacak (Tracer) dalam Geologi dan Hidrologi

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Nama uranium sering kali dikaitkan dengan energi nuklir atau persenjataan. Namun, di dunia geologi dan hidrologi, unsur radioaktif ini memiliki peran “detektif” yang tak ternilai: yaitu sebagai pelacak (tracer) alami untuk mengungkap rahasia pergerakan air dan sejarah Bumi. Kunci pemanfaatannya tidak terletak pada radioaktivitasnya yang kuat, melainkan pada perilaku unik isotop-isotopnya, terutama Uranium-238 (U-238) dan […]

  • Memahami Tarif Royalti LMKN: Bagaimana Cara Penetapannya

    Memahami Tarif Royalti LMKN: Bagaimana Cara Penetapannya

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Bagi banyak pengguna musik komersial, pertanyaan seputar tarif royalti LMKN seringkali menjadi misteri. Anggapan bahwa tarif ditetapkan secara sembarangan atau terlalu mahal adalah salah satu mitos yang sering beredar. Padahal, penetapan tarif royalti oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) memiliki dasar hukum dan mekanisme yang jelas, sehingga menghasilkan sistem yang adil bagi semua pihak. Dasar […]

  • Kisah Para Sahabat Nabi yang Menginspirasi dalam Ibadah Umrah

    Kisah Para Sahabat Nabi yang Menginspirasi dalam Ibadah Umrah

    • calendar_month Sen, 18 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Ibadah umrah adalah perjalanan yang penuh makna spiritual. Banyaknya ritual yang kita jalankan hari ini memiliki akar sejarah dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah mereka saat di Tanah Suci dapat menjadi sumber inspirasi tak terbatas, mengajarkan kita tentang keteguhan iman, pengorbanan, dan kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT. 1. Kisah Umar bin Khattab: Ketegasan […]

  • Kurva Phillips: Adakah Hubungan Terbalik Antara Inflasi dan Pengangguran?

    Kurva Phillips: Adakah Hubungan Terbalik Antara Inflasi dan Pengangguran?

    • calendar_month Kam, 3 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Dalam dunia kebijakan ekonomi, salah satu perdebatan paling klasik adalah hubungan antara inflasi dan pengangguran. Teori fundamental yang membahas dilema ini adalah Kurva Phillips. Diperkenalkan oleh ekonom A.W. Phillips, teori ini pada awalnya menunjukkan adanya hubungan terbalik yang stabil antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Secara sederhana, Kurva Phillips menyatakan bahwa untuk mencapai tingkat pengangguran […]

expand_less