Sabtu, 20 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Passiliran’: Tradisi Pemakaman Bayi di Pohon Tarra, Tana Toraja

Passiliran’: Tradisi Pemakaman Bayi di Pohon Tarra, Tana Toraja

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
  • visibility 148
  • comment 0 komentar

Tana Toraja di Sulawesi Selatan dikenal luas dengan upacara kematiannya yang megah, Rambu Solo’. Namun, di balik kemegahan tersebut, tersimpan sebuah tradisi pemakaman lain yang jauh lebih hening namun tak kalah sarat makna, yaitu Passiliran’. Ini adalah tradisi pemakaman bayi Tana Toraja yang unik, di mana jasad tidak dikebumikan di tanah, melainkan di dalam batang pohon hidup.

Tradisi kuno ini merupakan bagian dari sistem kepercayaan Aluk Todolo, yang menjadi panduan hidup masyarakat adat Toraja. Upacara Passiliran’ memiliki aturan dan filosofi yang sangat mendalam.

Makna Pohon Tarra sebagai Rahim Alam

Passiliran’ secara khusus diperuntukkan bagi bayi yang meninggal dunia sebelum gigi pertamanya tumbuh. Menurut kepercayaan lokal, bayi-bayi ini masih dalam keadaan suci dan bersih dari dosa. Oleh karena itu, mereka harus dikembalikan ke alam dengan cara yang suci pula, seolah-olah kembali ke dalam rahim.

Pohon yang dipilih untuk pemakaman ini adalah pohon Tarra, sejenis pohon sukun besar yang memiliki banyak getah berwarna putih. Getah ini dianggap sebagai simbol air susu ibu (ASI) yang akan terus menutrisi sang bayi di alam baka.

Prosesinya dilakukan dengan melubangi batang pohon Tarra yang masih hidup, kemudian jasad bayi dimasukkan ke dalamnya dengan posisi seperti janin. Lubang tersebut kemudian ditutup rapat menggunakan serat ijuk. Seiring berjalannya waktu, lubang kubur itu akan kembali menutup seiring pertumbuhan pohon. Masyarakat Toraja percaya, dengan cara ini sang bayi akan terus “tumbuh” bersama pohon, menyatu kembali dengan alam.

Tradisi Passiliran’ bukan sekadar ritual pemakaman, melainkan cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam dalam budaya Toraja. Ini adalah bukti nyata kekayaan warisan budaya Indonesia yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan kembali ke sumber kehidupan.

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketimpangan Ekonomi Antara Wilayah Barat dan Timur Indonesia

    Ketimpangan Ekonomi Antara Wilayah Barat dan Timur Indonesia

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Meskipun Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif, isu ketimpangan ekonomi antara wilayah barat dan timur Indonesia masih menjadi tantangan struktural yang signifikan. Kesenjangan ini tercermin dari konsentrasi aktivitas ekonomi, industri, dan pembangunan yang masih sangat dominan di Pulau Jawa dan Sumatera, sementara wilayah timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara relatif tertinggal. Akar masalah […]

  • Efek Jaringan: Mengapa Gojek dan Tokopedia Merajai Pasar Digital Indonesia

    Efek Jaringan: Mengapa Gojek dan Tokopedia Merajai Pasar Digital Indonesia

    • calendar_month Ming, 13 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Di era digital yang serba terhubung, fenomena network effects atau efek jaringan menjadi salah satu kunci utama mengapa platform seperti Gojek dan Tokopedia berhasil mendominasi pasar di Indonesia. Sederhananya, efek jaringan terjadi ketika nilai suatu produk atau layanan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna. Semakin banyak orang yang menggunakan Gojek atau Tokopedia, semakin berharga pula […]

  • Gong Kebyar: Puncak Perkembangan Seni Karawitan Bali

    Gong Kebyar: Puncak Perkembangan Seni Karawitan Bali

    • calendar_month Sel, 12 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Gong Kebyar adalah sebuah genre musik gamelan yang menjadi salah satu mahakarya seni karawitan Bali. Namanya berasal dari kata “kebyar” yang berarti meledak, mencerminkan karakteristik musiknya yang dinamis, cepat, dan penuh kejutan. Gong Kebyar dianggap sebagai puncak dari perkembangan seni gamelan di Bali pada awal abad ke-20 dan telah mendominasi panggung-panggung seni tari hingga saat […]

  • Kelingking Beach: Perjuangan Turun ke Pantai Berbentuk T-Rex yang Terbayarkan

    Kelingking Beach: Perjuangan Turun ke Pantai Berbentuk T-Rex yang Terbayarkan

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Kelingking Beach, ikon Nusa Penida yang terkenal dengan tebingnya yang menyerupaiTyrannosaurus Rex, adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di pulau ini. Keindahan formasi batuan yang unik dan birunya Samudra Hindia yang membentang luas sungguh memukau. Namun, untuk mencapai pasir putih dan deburan ombak di bawahnya, Anda harus bersiap untuk sebuah […]

  • Model Bisnis Inovatif: Memecah Batas Konvensional

    Model Bisnis Inovatif: Memecah Batas Konvensional

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Di era digital yang serba cepat ini, perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan model bisnis yang usang. Untuk bertahan dan berkembang, dibutuhkan model bisnis inovatif yang berani memecah batas konvensional. Inovasi dalam cara perusahaan menciptakan, menyampaikan, dan menangkap nilai menjadi kunci untuk meraih keunggulan kompetitif dan relevansi di pasar yang terus berubah.Salah satu ciri khas model […]

  • Tradisi Lisan Didong Gayo: Adu Puisi Semalam Suntuk

    Tradisi Lisan Didong Gayo: Adu Puisi Semalam Suntuk

    • calendar_month Kam, 10 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Dari dataran tinggi Gayo, Aceh, lahirlah sebuah tradisi lisan yang memukau bernama Didong Gayo. Ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah perpaduan harmonis antara sastra (puisi), vokal, dan gerak tepuk tangan yang penuh makna. Didong Gayo telah menjadi media dakwah, pendidikan, dan perekat sosial bagi masyarakat Gayo selama berabad-abad. Pertunjukan Didong Gayo biasanya berupa […]

expand_less