Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Passiliran’: Tradisi Pemakaman Bayi di Pohon Tarra, Tana Toraja

Passiliran’: Tradisi Pemakaman Bayi di Pohon Tarra, Tana Toraja

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
  • visibility 191
  • comment 0 komentar

Tana Toraja di Sulawesi Selatan dikenal luas dengan upacara kematiannya yang megah, Rambu Solo’. Namun, di balik kemegahan tersebut, tersimpan sebuah tradisi pemakaman lain yang jauh lebih hening namun tak kalah sarat makna, yaitu Passiliran’. Ini adalah tradisi pemakaman bayi Tana Toraja yang unik, di mana jasad tidak dikebumikan di tanah, melainkan di dalam batang pohon hidup.

Tradisi kuno ini merupakan bagian dari sistem kepercayaan Aluk Todolo, yang menjadi panduan hidup masyarakat adat Toraja. Upacara Passiliran’ memiliki aturan dan filosofi yang sangat mendalam.

Makna Pohon Tarra sebagai Rahim Alam

Passiliran’ secara khusus diperuntukkan bagi bayi yang meninggal dunia sebelum gigi pertamanya tumbuh. Menurut kepercayaan lokal, bayi-bayi ini masih dalam keadaan suci dan bersih dari dosa. Oleh karena itu, mereka harus dikembalikan ke alam dengan cara yang suci pula, seolah-olah kembali ke dalam rahim.

Pohon yang dipilih untuk pemakaman ini adalah pohon Tarra, sejenis pohon sukun besar yang memiliki banyak getah berwarna putih. Getah ini dianggap sebagai simbol air susu ibu (ASI) yang akan terus menutrisi sang bayi di alam baka.

Prosesinya dilakukan dengan melubangi batang pohon Tarra yang masih hidup, kemudian jasad bayi dimasukkan ke dalamnya dengan posisi seperti janin. Lubang tersebut kemudian ditutup rapat menggunakan serat ijuk. Seiring berjalannya waktu, lubang kubur itu akan kembali menutup seiring pertumbuhan pohon. Masyarakat Toraja percaya, dengan cara ini sang bayi akan terus “tumbuh” bersama pohon, menyatu kembali dengan alam.

Tradisi Passiliran’ bukan sekadar ritual pemakaman, melainkan cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam dalam budaya Toraja. Ini adalah bukti nyata kekayaan warisan budaya Indonesia yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan kembali ke sumber kehidupan.

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lebih dari Sekadar Pencarian: Inovasi Google yang Mengubah Dunia Informasi

    Lebih dari Sekadar Pencarian: Inovasi Google yang Mengubah Dunia Informasi

    • calendar_month Rab, 16 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Istilah “Googling” telah menjadi kata kerja yang mendunia, menunjukkan betapa dalamnya Google terintegrasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, di balik kemudahan mengetik pertanyaan dan mendapatkan jawaban dalam sekejap, terdapat sejarah panjang inovasi Google yang secara fundamental mengubah cara kita mencari dan berinteraksi dengan informasi. Pada awalnya, keunggulan Google terletak pada algoritma revolusioner bernama PageRank. Di […]

  • Sensor Kelembaban Tanah: Kunci Irigasi Efisien di Era Digital

    Sensor Kelembaban Tanah: Kunci Irigasi Efisien di Era Digital

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Air adalah sumber daya paling vital dalam pertanian, namun penggunaannya seringkali tidak efisien. Di era digital ini, teknologi telah menghadirkan solusi cerdas melalui sensor kelembaban tanah. Perangkat kecil ini adalah kunci untuk mengoptimalkan irigasi, memastikan setiap tetes air dimanfaatkan secara maksimal, dan membuka jalan menuju pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Bagaimana Sensor Kelembaban Tanah […]

  • Dugderan: Tradisi Unik Semarang Menyambut Ramadan dengan Warak Ngendog

    Dugderan: Tradisi Unik Semarang Menyambut Ramadan dengan Warak Ngendog

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kota Semarang memiliki sebuah tradisi unik yang selalu dinanti-nanti warganya: Dugderan. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-19 ini merupakan pesta rakyat meriah yang menjadi penanda bahwa ibadah puasa akan segera dimulai, dengan ikon khasnya yang legendaris, Warak Ngendog. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari gabungan dua suara yang menjadi penanda […]

  • Investasi Jangka Panjang: Mengapa Membayar Royalti LMKN Menguntungkan

    Investasi Jangka Panjang: Mengapa Membayar Royalti LMKN Menguntungkan

    • calendar_month Rab, 13 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 125
    • 0Komentar

    LBagi para pemilik bisnis, pembayaran royalti kepada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) seringkali dilihat sebagai biaya operasional. Namun, cara pandang ini perlu diubah. Membayar royalti seharusnya dipahami sebagai sebuah investasi jangka panjang yang akan memberikan keuntungan signifikan bagi bisnis Anda. Pertama, pembayaran royalti adalah investasi dalam kepastian hukum. Dengan memiliki lisensi dari LMKN, bisnis Anda […]

  • Pantai Jimbaran: Sensasi Makan Malam Seafood Bakar di Tepi Pantai

    Pantai Jimbaran: Sensasi Makan Malam Seafood Bakar di Tepi Pantai

    • calendar_month Kam, 10 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Mencari pengalaman wisata kuliner Bali yang berbeda dan tak terlupakan? Pantai Jimbaran adalah jawabannya. Lebih dari sekadar pantai dengan hamparan pasir putih yang landai, Jimbaran terkenal di seluruh dunia sebagai pusatnya makan malam di tepi pantai dengan menu andalan: seafood bakar yang segar dan menggugah selera. Suasana Magis Saat Matahari Terbenam Saat senja tiba, pesisir […]

  • Menganalisis Pro-Kontra Kebijakan LMKN dan Dampaknya

    Menganalisis Pro-Kontra Kebijakan LMKN dan Dampaknya

    • calendar_month Sel, 26 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Setiap kebijakan pasti memiliki dua sisi mata uang, tak terkecuali kebijakan yang diterapkan oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Sebagai jembatan antara pencipta dan pengguna karya, LMKN berperan krusial, namun kebijakannya kerap memicu perdebatan. Menganalisis pro dan kontra dari kebijakan ini penting untuk memahami dampaknya secara menyeluruh terhadap ekosistem musik di Indonesia. Pro: Efisiensi dan […]

expand_less