Senin, 23 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Mengapa Kerugian Terasa Lebih Menyakitkan Dibandingkan Keuntungan? (Prospect Theory)

Mengapa Kerugian Terasa Lebih Menyakitkan Dibandingkan Keuntungan? (Prospect Theory)

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
  • visibility 83
  • comment 0 komentar

Pernahkah Anda merasa lebih kecewa saat kehilangan uang Rp100.000 dibandingkan rasa senang saat menemukan nominal yang sama? Jika ya, Anda tidak sendiri. Fenomena psikologis ini adalah inti dari Prospect Theory (Teori Prospek), sebuah konsep pemenang Nobel yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky.

Teori ini secara fundamental menantang asumsi ekonomi klasik bahwa manusia selalu membuat keputusan rasional. Sebaliknya, Prospect Theory menunjukkan bahwa keputusan kita, terutama yang melibatkan risiko, sangat dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap keuntungan (gain) dan kerugian (loss).

Konsep utamanya adalah aversi kerugian (loss aversion). Penelitian menunjukkan bahwa secara psikologis, dampak dari kerugian terasa sekitar dua kali lebih kuat dibandingkan dampak dari keuntungan dengan nilai yang sama. Inilah sebabnya rasa sakit karena kehilangan Rp100.000 jauh lebih membekas daripada kegembiraan sesaat karena mendapatkannya. Otak kita terprogram untuk memprioritaskan upaya menghindari kerugian daripada upaya mengejar keuntungan.

Selain itu, teori ini memperkenalkan gagasan titik referensi (reference point). Kita tidak mengevaluasi hasil secara absolut, melainkan relatif terhadap kondisi awal kita. Bagi seseorang yang memiliki uang pas-pasan, kehilangan Rp100.000 bisa terasa seperti bencana, sementara bagi seorang jutawan, dampaknya mungkin tidak terasa.

Implikasinya dalam kehidupan sehari-hari sangat besar, terutama dalam keputusan finansial. Aversi kerugian adalah alasan mengapa banyak investor terlalu lama memegang saham yang merugi, karena menjualnya berarti “merealisasikan” rasa sakit dari kerugian tersebut. Mereka lebih memilih berharap harga akan pulih, meskipun itu keputusan yang tidak rasional.

Dengan memahami Prospect Theory, kita bisa lebih waspada terhadap jebakan emosional ini. Mengenali bahwa rasa takut kehilangan sering kali lebih dominan adalah langkah pertama untuk membuat keputusan finansial yang lebih seimbang dan objektif.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manggokkal Holi: Mengenal Upacara Sakral Memuliakan Leluhur Suku Batak

    Manggokkal Holi: Mengenal Upacara Sakral Memuliakan Leluhur Suku Batak

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Bagi Suku Batak di Sumatera Utara, penghormatan terhadap leluhur (ompu) merupakan salah satu pilar utama kehidupan. Puncak dari penghormatan ini terwujud dalam sebuah upacara adat yang agung dan sakral, yaitu Manggokkal Holi. Tradisi ini adalah upacara pemakaman kedua, di mana tulang belulang para leluhur yang telah lama meninggal akan dibongkar untuk disemayamkan di tempat yang […]

  • Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC): Menyedot CO2 dari Udara sebagai Solusi Iklim

    Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC): Menyedot CO2 dari Udara sebagai Solusi Iklim

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Di tengah perjuangan global melawan perubahan iklim, mengurangi emisi saja tidak lagi cukup. Dunia kini memerlukan teknologi yang mampu membersihkan karbon dioksida (CO2) yang sudah terlanjur ada di atmosfer. Di sinilah peran krusial Teknologi Penangkapan Karbon Langsung (DAC), sebuah inovasi terdepan yang berfungsi layaknya penyedot debu raksasa untuk gas rumah kaca. Berbeda dari penangkapan karbon […]

  • Memahami Hak Anda: UU Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan di Indonesia

    Memahami Hak Anda: UU Perlindungan Konsumen Sektor Keuangan di Indonesia

    • calendar_month Ming, 13 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Sebagai nasabah atau pengguna layanan keuangan, Anda memiliki hak-hak yang dilindungi oleh undang-undang. Di Indonesia, perlindungan konsumen di sektor keuangan diatur dalam berbagai peraturan, termasuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta peraturan khusus yang dikeluarkan oleh otoritas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Memahami hak-hak ini sangat penting agar Anda dapat bertransaksi dengan […]

  • Bali Bird Park & Reptile Park: Wisata Edukasi Satwa untuk Keluarga

    Bali Bird Park & Reptile Park: Wisata Edukasi Satwa untuk Keluarga

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Mencari destinasi liburan keluarga yang seru sekaligus mendidik di Bali? Bali Bird Park dan Bali Reptile Park yang berlokasi strategis di Gianyar adalah jawaban yang sempurna. Dua taman konservasi kelas dunia ini menawarkan pengalaman melihat dari dekat ratusan spesies satwa eksotis dalam satu kawasan, menjadikannya pilihan ideal untuk mengisi hari liburan Anda. Dua Taman, Satu […]

  • Percetakan Organ 3D: Solusi Revolusioner untuk Transplantasi

    Percetakan Organ 3D: Solusi Revolusioner untuk Transplantasi

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 72
    • 0Komentar

    menciptakan organ baru, menawarkan solusi revolusioner untuk daftar tunggu transplantasi dan risiko penolakan. Daftar tunggu untuk transplantasi organ di Indonesia dan seluruh dunia merupakan masalah kritis yang merenggut banyak nyawa. Kelangkaan donor yang cocok menjadi hambatan utama. Namun, di tengah tantangan ini, sebuah terobosan bioteknologi yang dulunya terdengar seperti fiksi ilmiah kini menunjukkan potensi nyata: […]

  • Universal Basic Income (UBI): Solusi Radikal untuk Kemiskinan dan Otomatisasi?

    Universal Basic Income (UBI): Solusi Radikal untuk Kemiskinan dan Otomatisasi?

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Bayangkan setiap bulan, semua warga negara—tanpa memandang kaya atau miskin, bekerja atau tidak—menerima sejumlah uang tunai dari pemerintah tanpa syarat. Ide radikal yang dikenal sebagai Universal Basic Income (UBI) atau Pendapatan Dasar Universal ini semakin sering diperbincangkan sebagai jawaban atas dua tantangan besar abad ke-21: kemiskinan ekstrem dan ancaman hilangnya jutaan pekerjaan akibat otomatisasi dan […]

expand_less