Palang Pintu: Atraksi Silat dan Pantun dalam Pernikahan Betawi
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Kam, 17 Jul 2025
- visibility 12
- comment 0 komentar

Suasana meriah sebuah pernikahan adat Betawi mencapai puncaknya saat rombongan calon pengantin pria tiba di kediaman mempelai wanita. Namun, mereka tidak bisa langsung masuk. Sebuah “palang pintu” telah menanti. Inilah Palang Pintu, sebuah tradisi unik yang memadukan ketangkasan adu silat dengan keindahan adu pantun, menjadi gerbang pembuka yang penuh makna sebelum akad nikah dilangsungkan.
Prosesi ini dibuka dengan dialog antara juru bicara dari kedua belah pihak. Perwakilan mempelai wanita, sang “tuan rumah”, akan menantang rombongan pria yang dianggap sebagai tamu tak diundang. Adu mulut ini kemudian berlanjut menjadi duel puitis antara para juru pantun. Mereka saling melempar pantun yang jenaka, penuh nasihat, dan terkadang bernada jual mahal. Setelah sesi berbalas pantun selesai, barulah para jagoan silat dari kedua kubu unjuk kebolehan.
Setiap babak dalam Palang Pintu memiliki makna filosofis yang dalam. Adu pantun melambangkan kemampuan calon mempelai pria dalam berkomunikasi dan bernegosiasi. Sementara itu, kemenangan dalam duel silat menjadi simbol kesanggupannya untuk melindungi keluarga dari segala marabahaya. Seringkali, setelahnya calon pengantin pria juga diuji kemampuannya dalam melantunkan ayat suci Al-Quran, menunjukkan kesiapannya menjadi pemimpin spiritual bagi istrinya kelak.
Jadi, Palang Pintu bukanlah sekadar hiburan atau pertunjukan. Ia adalah sebuah ujian simbolis yang harus dilewati calon pengantin pria untuk membuktikan kelayakannya. Tradisi ini secara meriah menunjukkan betapa Suku Betawi menghargai kemampuan intelektual, kekuatan fisik, dan kedalaman spiritual sebagai fondasi utama dalam membangun sebuah rumah tangga yang kokoh.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar