Rabu, 5 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Sejarah Angklung: Dari Ritual Pertanian hingga Panggung Dunia

Sejarah Angklung: Dari Ritual Pertanian hingga Panggung Dunia

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sab, 19 Jul 2025
  • visibility 121
  • comment 0 komentar

Angklung, alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu, memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan menarik, berawal dari ritual pertanian sederhana hingga memukau panggung-panggung dunia. Diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Tak Benda Kemanusiaan, angklung bukan hanya sekadar instrumen musik, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat Sunda.

Awal mula angklung erat kaitannya dengan kepercayaan dan ritual masyarakat agraris. Bunyi yang dihasilkan diyakini memiliki kekuatan magis untuk memanggil Dewi Sri (dewi padi) agar memberkahi kesuburan tanah dan hasil panen melimpah. Bentuk angklung pada masa itu mungkin masih sederhana, dimainkan dalam upacara-upacara seperti seren taun (panen raya).

Seiring waktu, angklung mengalami perkembangan bentuk dan fungsi. Pada masa Kerajaan Sunda, angklung menjadi bagian dari seni pertunjukan istana. Namun, esensinya sebagai alat musik komunal tetap terjaga. Cara memainkannya yang membutuhkan kerjasama dan harmoni antar pemain mencerminkan nilai gotong royong dalam masyarakat. Setiap angklung hanya menghasilkan satu atau dua nada, sehingga dibutuhkan ansambel untuk menciptakan melodi yang utuh.

Pada abad ke-20, tokoh musik Indonesia, Daeng Soetigna, mengembangkan angklung diatonis yang memungkinkan alat musik ini memainkan berbagai jenis musik modern. Inovasi ini membuka jalan bagi angklung untuk dikenal lebih luas, bahkan menembus batas negara. Kini, orkestra angklung dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, membawakan beragam genre musik dari tradisional hingga kontemporer.

Dari bunyi sederhana di ladang hingga melodi megah di gedung konser, sejarah angklung adalah kisah tentang evolusi budaya. Ia membuktikan bagaimana sebuah alat musik tradisional dapat terus relevan dan dicintai, menjadi duta seni dan simbol kebersamaan Indonesia di mata dunia.

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Komputer Generasi Kedua: Era Transistor yang Lebih Cepat dan Kecil

    Mengenal Komputer Generasi Kedua: Era Transistor yang Lebih Cepat dan Kecil

    • calendar_month Ming, 22 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Transisi dari tabung vakum yang besar dan rentan ke komponen yang lebih revolusioner menandai hadirnya Komputer Generasi Kedua (sekitar 1950-an – 1960-an). Ini adalah era ketika transistor mengambil alih peran utama, membawa kemajuan signifikan yang mengubah wajah komputasi. Dibandingkan pendahulunya, komputer generasi ini jauh lebih cepat, lebih kecil, dan lebih andal. Penemuan transistor pada tahun […]

  • Merti Dusun: Ritual Bersih Desa sebagai Wujud Syukur

    Merti Dusun: Ritual Bersih Desa sebagai Wujud Syukur

    • calendar_month Kam, 10 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Di berbagai daerah di Jawa, Merti Dusun menjadi sebuah tradisi Jawa yang selalu dinantikan. Upacara adat yang juga dikenal dengan sebutan bersih desa ini merupakan sebuah perayaan komunal sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah, terutama hasil panen yang melimpah dan keselamatan seluruh warga desa. Rangkaian acara Merti Dusun biasanya diawali […]

  • Dugderan: Tradisi Unik Semarang Menyambut Ramadan dengan Warak Ngendog

    Dugderan: Tradisi Unik Semarang Menyambut Ramadan dengan Warak Ngendog

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kota Semarang memiliki sebuah tradisi unik yang selalu dinanti-nanti warganya: Dugderan. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-19 ini merupakan pesta rakyat meriah yang menjadi penanda bahwa ibadah puasa akan segera dimulai, dengan ikon khasnya yang legendaris, Warak Ngendog. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari gabungan dua suara yang menjadi penanda […]

  • Coto Makassar: Sup Berkuah Kental dengan Sejarah Panjang

    Coto Makassar: Sup Berkuah Kental dengan Sejarah Panjang

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Dari Sulawesi Selatan, hadir sebuah hidangan legendaris yang memikat selera dengan kuahnya yang kental dan kaya rempah: Coto Makassar. Lebih dari sekadar sup, Coto Makassar adalah simbol kuliner yang telah menempuh perjalanan panjang sejarah, menjadi warisan budaya yang tak lekang oleh waktu dan kebanggaan masyarakat Makassar. Sejarah Coto Makassar diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan […]

  • Solusi untuk Eksternalitas: Teorema Coase dan Pajak Pigouvian

    Solusi untuk Eksternalitas: Teorema Coase dan Pajak Pigouvian

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Eksternalitas terjadi ketika aktivitas ekonomi seseorang memengaruhi orang lain yang tidak terlibat dalam transaksi tersebut. Contohnya adalah polusi dari pabrik yang merugikan masyarakat sekitar. Untuk mengatasi masalah ini, ekonom telah mengembangkan dua solusi utama: Teorema Coase dan Pajak Pigouvian. Teorema Coase: Solusi Melalui Negosiasi Teorema Coase, yang dikemukakan oleh ekonom Ronald Coase, menyatakan bahwa jika […]

  • LMKN: Mengapa Setiap Pengusaha Perlu Memahami Fungsinya

    LMKN: Mengapa Setiap Pengusaha Perlu Memahami Fungsinya

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Di tengah kesibukan mengelola bisnis, banyak pengusaha mungkin tidak menyadari satu hal penting: penggunaan musik di tempat usaha memiliki konsekuensi hukum dan finansial. Di sinilah Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) hadir dan mengapa setiap pengusaha perlu memahami fungsinya. LMKN bukanlah lembaga penegak hukum yang menakutkan, melainkan sebuah jembatan yang memudahkan pengusaha untuk mematuhi peraturan hak […]

expand_less