Coto Makassar: Sup Berkuah Kental dengan Sejarah Panjang
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month Jum, 12 Sep 2025
- visibility 49
- comment 0 komentar

Dari Sulawesi Selatan, hadir sebuah hidangan legendaris yang memikat selera dengan kuahnya yang kental dan kaya rempah: Coto Makassar. Lebih dari sekadar sup, Coto Makassar adalah simbol kuliner yang telah menempuh perjalanan panjang sejarah, menjadi warisan budaya yang tak lekang oleh waktu dan kebanggaan masyarakat Makassar.
Sejarah Coto Makassar diyakini sudah ada sejak zaman Kerajaan Gowa, sekitar abad ke-16. Pada awalnya, hidangan ini hanya disajikan untuk keluarga kerajaan dan para bangsawan. Seiring berjalannya waktu, Coto Makassar mulai dikenal dan dinikmati oleh masyarakat umum, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kuliner di kota Anging Mammiri.
Rahasia kelezatan Coto Makassar terletak pada kuahnya yang kental dan pekat, hasil dari rebusan jeroan sapi (babat, paru, hati, jantung) dan daging sapi yang dimasak bersama puluhan jenis rempah. Bumbu utama yang memberikan ciri khas pada kuah adalah kacang tanah sangrai yang dihaluskan, memberikan tekstur kental dan rasa gurih yang mendalam. Selain itu, ada juga bumbu-bumbu lain seperti serai, lengkuas, daun salam, bawang merah, bawang putih, dan berbagai rempah rahasia yang diwariskan turun-temurun.
Coto Makassar biasanya disajikan panas-panas dalam mangkuk, ditemani dengan ketupat atau buras (lontong ketan) sebagai pengganti nasi. Taburan bawang goreng, irisan daun bawang, dan perasan jeruk nipis menambah kesempurnaan rasa dan aroma. Setiap suapan Coto Makassar adalah perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dan kompleks dari rempah-rempah yang meresap sempurna.
Coto Makassar bukan hanya hidangan lezat, tetapi juga sebuah manifestasi sejarah dan kearifan lokal. Ia adalah pengingat akan kekayaan rempah Indonesia dan keahlian masyarakatnya dalam meracik bumbu. Dengan setiap mangkuk Coto Makassar, kita tidak hanya menikmati santapan, tetapi juga menyantap sepotong sejarah dan kebanggaan kuliner Nusantara.
- Penulis: Muhamad Fatoni

Saat ini belum ada komentar