Jajanan Pasar: Harta Karun Kuliner yang Terancam Punah
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar

Di tengah gempuran makanan cepat saji dan kudapan modern, jajanan pasar tetap memancarkan pesonanya sebagai harta karun kuliner Indonesia yang tak ternilai. Lebih dari sekadar camilan, jajanan pasar adalah cerminan dari kekayaan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, di balik kelezatannya, tersimpan kekhawatiran akan nasibnya yang semakin terancam punah.
Dari klepon dengan isian gula merah yang meleleh di lidah, wingko babat yang legit, hingga getuk yang lembut, setiap jajanan pasar memiliki cerita dan ciri khasnya sendiri. Bahan-bahan alami seperti tepung beras, singkong, ketan, kelapa, dan gula aren diolah dengan cara tradisional, menciptakan rasa otentik yang sulit ditemukan pada makanan modern. Warna-warni cerah dari kue lapis atau cenil bukan berasal dari pewarna sintetis, melainkan dari ekstrak pandan, suji, atau buah-buahan alami.
Namun, keberadaan jajanan pasar semakin terdesak. Generasi muda kurang akrab dengannya, dan para pembuatnya yang mayoritas adalah generasi tua, kesulitan menemukan penerus. Selain itu, proses pembuatan yang seringkali memakan waktu dan tenaga, serta keuntungan yang tidak seberapa, membuat banyak penjual beralih ke usaha lain.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa melestarikan jajanan pasar berarti menjaga identitas kuliner bangsa. Upaya promosi, inovasi dalam penyajian, serta edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, adalah kunci. Mari kita bersama-sama menghargai dan mendukung para penjual jajanan pasar, agar harta karun kuliner ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup dan terus dinikmati oleh generasi mendatang.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar