Minggu, 31 Agu 2025
light_mode
Beranda » Budaya » Nelubulanin: Merayakan Kehidupan Baru dengan Tradisi Bali yang Sarat Makna

Nelubulanin: Merayakan Kehidupan Baru dengan Tradisi Bali yang Sarat Makna

  • account_circle Muhamad Fatoni
  • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
  • visibility 17
  • comment 0 komentar

Bali, dengan kekayaan tradisi dan budayanya, memiliki berbagai upacara yang menandai tahapan penting dalam kehidupan seseorang. Salah satunya adalah Nelubulanin, sebuah upacara yang dilaksanakan saat bayi berusia tiga bulan (105 hari) menurut kalender Saka Bali. Upacara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga ungkapan rasa syukur, penyucian bayi, dan pengenalan sang buah hati kepada alam semesta serta leluhur.

Makna Spiritual dan Sosial Nelubulanin

Nelubulanin memiliki makna spiritual yang mendalam. Pada usia tiga bulan, menurut kepercayaan Hindu Bali, roh bayi dianggap telah menetap dengan sempurna di dalam tubuhnya. Upacara ini menjadi momen penting untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi sang bayi. Selain itu, Nelubulanin juga merupakan acara sosial yang mempererat tali silaturahmi antar keluarga, kerabat, dan tetangga.

Berbagai rangkaian ritual dilakukan dalam upacara ini, termasuk pembersihan bayi dengan air suci, pemberian nama resmi (jika belum dilakukan), pemotongan sedikit rambut sebagai simbol membuang hal-hal negatif, serta persembahan (banten) kepada para dewa dan leluhur. Musik gamelan Bali yang khusyuk mengiringi jalannya upacara, menciptakan suasana sakral dan penuh kedamaian.

Pengenalan Bayi pada Alam dan Komunitas

Salah satu aspek penting dari Nelubulanin adalah ritual turun tanah (mekala-kalaan), di mana bayi untuk pertama kalinya menyentuh tanah. Hal ini melambangkan pengenalan bayi kepada alam semesta sebagai tempat ia akan tumbuh dan berkembang. Selain itu, upacara ini juga menjadi momen pengenalan resmi bayi kepada komunitas banjar (desa adat), menandakan bahwa sang bayi telah menjadi bagian dari masyarakat.

Pelestarian Tradisi di Era Modern

Meskipun zaman terus berkembang, upacara Nelubulanin tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat Bali. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan rasa syukur dalam kehidupan. Melalui Nelubulanin, warisan budaya Bali terus hidup dan memberikan identitas yang kuat bagi generasi penerus.

Kesimpulan

Nelubulanin adalah upacara yang indah dan sarat makna dalam tradisi Bali. Lebih dari sekadar perayaan kelahiran, upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur, penyucian, dan pengenalan bayi kepada alam serta komunitasnya, sekaligus mempererat ikatan sosial masyarakat.

 

 

  • Penulis: Muhamad Fatoni

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tari Piring: Keindahan dan Keseimbangan dalam Atraksi Tradisional Minangkabau

    Tari Piring: Keindahan dan Keseimbangan dalam Atraksi Tradisional Minangkabau

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Sumatera Barat dikenal kaya akan tradisi dan budaya yang mempesona, salah satunya adalah Tari Piring. Tarian ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga warisan budaya Minangkabau yang sarat akan makna dan keindahan. Keunikan utama Tari Piring terletak pada atraksi para penari yang dengan lincah menggerakkan badan sambil membawa piring di kedua telapak tangan mereka, […]

  • Zero Trust Security: Paradigma Baru Keamanan Jaringan di Era Digital Indonesia

    Zero Trust Security: Paradigma Baru Keamanan Jaringan di Era Digital Indonesia

    • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Di tengah lanskap ancaman siber yang semakin canggih, pendekatan keamanan jaringan tradisional yang berfokus pada perimeter kini dianggap kurang efektif. Zero Trust Security hadir sebagai paradigma baru yang revolusioner, mengedepankan prinsip “jangan pernah percaya, selalu verifikasi” untuk melindungi aset digital organisasi di Indonesia. Menggeser Paradigma Keamanan Tradisional Model keamanan perimeter tradisional mengasumsikan bahwa semua yang […]

  • Bagaimana PPATK Mendeteksi Transaksi Fiktif?

    Bagaimana PPATK Mendeteksi Transaksi Fiktif?

    • calendar_month Sen, 18 Agu 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 17
    • 0Komentar

    Transaksi fiktif atau palsu adalah salah satu modus utama yang digunakan oleh pelaku kejahatan finansial untuk mencuci uang. Transaksi ini dirancang agar seolah-olah sah, padahal tidak ada aktivitas bisnis atau pertukaran barang/jasa yang nyata di baliknya. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) memiliki kemampuan analitis yang canggih untuk menembus kamuflase ini dan mendeteksi transaksi […]

  • Waspadai 5 Risiko Utama Investasi Properti di Indonesia

    Waspadai 5 Risiko Utama Investasi Properti di Indonesia

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Investasi properti di Indonesia sering dianggap sebagai salah satu cara paling aman untuk membangun kekayaan. Namun, di balik potensinya yang menggiurkan, terdapat berbagai risiko dan tantangan investasi properti yang wajib dipahami oleh setiap investor sebelum terjun langsung. Mengenali risiko ini sejak awal adalah langkah krusial untuk melindungi modal dan mengamankan keuntungan Anda di masa depan. […]

  • Menyelami Filosofi Rambu Solo’: Upacara Kematian Megah di Tana Toraja

    Menyelami Filosofi Rambu Solo’: Upacara Kematian Megah di Tana Toraja

    • calendar_month Sab, 28 Jun 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Berbicara tentang Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tak lengkap tanpa menyebut Rambu Solo’, sebuah ritual dan upacara kematian yang dikenal dengan kemegahannya. Namun, di balik rangkaian prosesi yang memukau, tersimpan filosofi mendalam tentang penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Bagi masyarakat Toraja, Rambu Solo’ bukanlah sekadar perayaan, melainkan sebuah kewajiban untuk menyempurnakan kematian seseorang dan […]

  • Filosofi di Balik Rumah Adat Tongkonan Toraja

    Filosofi di Balik Rumah Adat Tongkonan Toraja

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle Muhamad Fatoni
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan, berdiri megah sebuah mahakarya arsitektur yang ikonik: rumah adat Tongkonan. Dengan atapnya yang menjulang melengkung seperti perahu, Tongkonan bukan sekadar tempat tinggal. Bagi Suku Toraja, ia adalah pusat kehidupan, simbol status sosial, dan representasi filosofi mendalam yang berakar pada kepercayaan leluhur, Aluk To Dolo. Nama “Tongkonan” berasal dari […]

expand_less