Sate: Seni Menusuk dan Membakar Daging yang Berbeda di Tiap Daerah
- account_circle Muhamad Fatoni
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar

Sate, hidangan daging yang ditusuk dan dibakar, bukan hanya sekadar makanan, melainkan sebuah seni kuliner yang kaya akan variasi dan cerita di setiap daerah di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki versi sate yang unik, merefleksikan kekayaan rempah, bahan lokal, dan teknik memasak tradisional yang diwariskan turun-temurun. Sate adalah bukti nyata betapa beragamnya cita rasa Nusantara.
Ambil contoh Sate Madura, mungkin yang paling populer. Daging ayam atau kambing dipotong kecil, direndam bumbu kuning, lalu dibakar sempurna dan disajikan dengan bumbu kacang kental yang manis gurih, irisan bawang merah, dan cabai rawit. Aroma asap bakaran arang menjadi ciri khas yang tak terlupakan.
Berbeda lagi dengan Sate Padang. Daging sapi atau lidah direbus dalam kuah rempah kaya rasa, kemudian ditusuk dan dibakar sebentar. Bumbu utamanya bukan kacang, melainkan kuah kental berwarna kekuningan atau kemerahan yang terbuat dari campuran tepung beras dan berbagai rempah khas Minang. Rasanya pedas, gurih, dan sedikit asam, sangat menggugah selera.
Dari Jawa, ada Sate Lilit khas Bali yang terbuat dari daging cincang (ayam, ikan, atau babi) yang dicampur parutan kelapa dan bumbu base genep, lalu dililitkan pada batang serai atau bambu pipih sebelum dibakar. Aromanya harum dan rasanya sangat kaya rempah. Ada juga Sate Maranggi dari Purwakarta yang terkenal dengan bumbu kecapnya yang meresap sempurna, sehingga tak perlu lagi bumbu tambahan saat disajikan.
Setiap jenis sate menawarkan pengalaman rasa yang berbeda. Keberagaman ini menjadikan sate sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia yang patut dibanggakan dan terus dieksplorasi. Sate bukan hanya tentang daging bakar, tetapi juga tentang warisan budaya dan kebanggaan daerah.
- Penulis: Muhamad Fatoni
Saat ini belum ada komentar